Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Batu Bara Masih Berada di Jalur Kenaikan

Harga batu bara telah menguat hingga 20,37 persen sejak menyentuh level terendahnya pada satu bulan lalu di level US$53,5 per ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 08 Oktober 2020  |  06:13 WIB
Harga Batu Bara Masih Berada di Jalur Kenaikan
Proses pengapalan batu bara dari conveyor belt ke kapan tongkang. - abm/investama.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Harga batu bara masih berada di jalur kenaikannya dan diproyeksikan dapat mempertahankan tren penguatannya di sisa tahun ini.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (6/10/2020), harga batu bara Newcastle berjangka untuk kontrak Januari 2021 masih parkir di zona hijau, di level US$64,4 per ton atau naik 0,78 persen. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, harga menguat hingga 1,91 persen.

Harga batu bara telah menguat hingga 20,37 persen sejak menyentuh level terendahnya pada satu bulan lalu di level US$53,5 per ton. Kendati demikian, sepanjang tahun berjalan 2020 harga batu bara masih terkoreksi 12,2 persen.

Mengutip publikasi Morgan Stanley terbaru, permintaan batu bara sudah tampak lebih kuat dan pengurangan pasokan telah mendukung pengetatan pasar sehingga harga berhasil dalam tren kenaikan.

“Kenaikan baru-baru ini, disebabkan oleh peningkatan pembelian spot dari konsumen utama China,” tulis Morgan Stanley seperti dikutip pada Rabu (7/10/2020).

Untuk diketahui, Pemerintah China dalam beberapa bulan terakhir tengah membatasi impor batu bara untuk menyerap pasokan dalam negeri. Namun, produksi batu bara di sebagian daerah tengah dalam tekanan seiring dengan adanya tindakan keras dari otoritas terhadap produksi ilegal.

Hal itu memperketat pasokan padahal permintaan sudah mulai menunjukkan pemulihan. Tidak hanya itu, ketatnya produksi dalam negeri China menjadi sinyal pemerintah mungkin akan melonggarkan keran impor importir batu bara terbesar dunia.

Selain itu, Morgan Stanley mengatakan bahwa pembangkit listrik dari batu bara untuk importir utama seperti India, Jepang, dan Korea Selatan kembali normal.

Sementara itu, Kepala Riset Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengatakan bahwa penguatan harga batu bara didukung oleh dua sentimen, yaitu cuaca dingin di Korea Selatan dan penutupan salah satu power plant nuklir milik Kansai (Jepang) yang berkapasitas 870MW hingga 4 bulan ke depan.

“Dampak kenaikan harga batubara Newcastle positif untuk laba operasional PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG),” ujar Robertus seperti dikutip dari keterangannya, Rabu (7/10/2020).

Adapun, sentimen kenaikan harga komoditas itu telah mendorong mayoritas emiten batu bara di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di zona hijau pada Rabu (7/10/2020).

Sejumlah saham yang menguat ialah PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang naik 2 persen, diikuti saham PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID) yang menguat 1,75 persen, dan saham PT Harum Energy Tbk. (HRUM) yang naik 1,61 persen.

Tidak mau kalah, saham PT Indika Energy Tbk. (INDY) juga naik 1,09 persen dan disusul oleh saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) yang menguat 0,44 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas batu bara harga batu bara
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top