Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Diumumkan Awal Oktober, Kupon ORI018 Diperkirakan Capai 6 Persen

Analis menduga kupon yang ditawarkan ORI018 tak akan jauh berbeda dari kupon obligasi ritel syariah yang diterbitkan sebelumnya yaitu SR013 yang sebesar 6,05 persen karena karakteristik kedua instrumen tersebut hampir mirip.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 28 September 2020  |  18:59 WIB
Ilustrasi investasi - Istimewa
Ilustrasi investasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah analis memperkirakan kupon obligasi ritel ORI018 yang akan ditawarkan pemerintah pada Kamis (1/10/2020) tidak akan jauh dari level 6 persen.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menduga kupon yang ditawarkan ORI018 tak akan jauh berbeda dari kupon obligasi ritel syariah yang diterbitkan sebelumnya yaitu SR013 yang sebesar 6,05 persen karena karakteristik kedua instrumen tersebut hampir mirip.

“Menurut saya mungkin 6 persen atau turun sedikit karena permintaan cukup baik, bisa di 6,05 persen bisa di 6 persen atau 5,9 persen,” kata Ramdhan kepada Bisnis, Senin (28/9/2020).

Dia mengatakan bahwa penetapan kupon obligasi ritel oleh pemerintah selalu menyesuaikan dengan kondisi atau yield di pasar pada saat penerbitan. Menurut Ramdhan, kondisi saat ini belum jauh berbeda dibandingkan masa pemerintah menerbitkan SR013 pada akhir Agustus 2020.

Adapun, saat ini yield obligasi SUN tenor 5 tahun berada di sekitar 5 persen. Sehingga, untuk menarik investor nantinya pemerintah akan menawarkan kupon yang lebih tinggi sedikit dari SUN tersebut.

Mengenai dibukanya masa early redemption untuk Savings Bond Retail (SBR) 008 mulai Senin (28/9/2020), Ramdhan menduga tidak akan banyak investor yang akan memanfaatkan fasilitas tersebut.

Pasalnya, kupon yang ditawarkan SBR008 masih tinggi sehingga investor cenderung akan memegang hingga jatuh tempo (hold to maturity).

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan di tengah situasi saat ini investor pada dasarnya tak memiliki banyak pilihan aset investasi karena ketidakpastian sangat tinggi.

“Lelang FR memang tipis tapi kalau Sukuk Ritel (SR) maupun Obligasi Negara Ritel (ORI) malah rekor permintaannya. Saya yakin nanti ORI018 juga pasti menarik sepanjang imbal hasilnya di atas 5,5 persen,” ujar Wawan.

Permintaan atas SR013 yang jauh melebihi target disebut Wawan menjadi bukti bahwa sebetulnya kebutuhan investor terutama dari kalangan ritel masih tinggi untuk investasi yang dipandang aman dan menguntungkan.

Apalagi, obligasi ritel memberikan kupon atau imbal hasil tetap setiap bulan. Hal ini jauh lebih menarik ketimbang masyarakat menempatkan dana di bank lewat deposito dengan suku bunga rendah.

Namun, investor tetap perlu melakukan alokasi aset. Penempatan saham yang sama sekali tidak ada pada masa pandemi bisa membuat masyarakat tak dapat menikmati kenaikan pasar saham saat ekonomi pulih.

Wawan menyarankan masyarakat berpegang pada skema investasi 5-3-2, yaitu penempatan 50 persen pada instrumen berbasis pendapatan tetap, 30 persen pada instrumen pasar uang, dan 20 persen pada saham.

Pepatah yang mengatakan 'jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang' menjadi sangat relevan saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi Obligasi obligasi ritel indonesia
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top