Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kemungkinan Penerapan Lockdown Jilid II Bebani Prospek Harga Gula

Risiko penerapan lockdown lanjutan dapat memicu penurunan permintaan gula global pada musim depan dan membebani harga.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 September 2020  |  14:52 WIB
Petani sedang memanen tanaman tebu di Brazil - Bloomberg
Petani sedang memanen tanaman tebu di Brazil - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar gula global kembali dalam tekanan seiring dengan kemungkinan diterapkannya kembali lockdown di beberapa negara setelah melonjaknya kasus positif Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Analis Pertanian dan Biofuel S&P Global Platts Patricia Luis-Manso memperkirakan bahwa permintaan gula global akan lebih rendah pada musim depan dan membebani harga.

Padahal, dalam beberapa bulan terakhir harga gula berjangka telah pulih dari level terendahnya 9,38 sen per pon, saat banyak negara membuka kembali ekonominya. Sepanjang tahun berjalan 2020 saja, harga telah berhasil bergerak di zona hijau naik 2,04 persen.

Namun, dengan meningkatnya infeksi Covid-19, ada risiko bahwa banyak negara akan mengaktifkan kembali penguncian, menyusul Inggris dan Israel yang telah menerapkan kembali kebijakan lockdown tersebut.

Permintaan gula global diperkirakan kembali melemah hingga 1,6 juta ton untuk musim depan seiring dengan prospek penerapan kebijakan lockdown kembali tersebut.

Selain itu, proyeksi permintaan yang lemah itu pun terjadi di tengah Brasil yang memiliki kemampuan untuk menggenjot produksi gulanya sehingga pasar khawatir pasokan tidak akan terserap dengan baik.

Dengan demikian, Luis-Manso mengatakan bahwa kedua sentimen proyeksi permintaan dan pasokan itu menjadi sinyal bearish untuk harga gula berjangka dalam jangka pendek.

“Sentimen itu juga yang mengikis perkiraan defisit pasokan dari awal tahun ini sehingga kemungkinannya terlalu kecil untuk memberikan dampak signifikan agar harga naik lebih tinggi,” ujar Luis Manso seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (27/9/2020).

Adapun, dia menjelaskan bahwa sesungguhnya konsumsi global sudah menurun sebelum pandemi Covid-19 menyebar luas di beberapa negara pada tahun ini. Hal itu seiring dengan tren pola gaya hidup sehat masyarakat yang mengurangi konsumsi gula.

Namun, dengan adanya pandemi Covid-19 permintaan semakin jatuh hingga turun 2,5 juta ton pada musim lalu, lebih rendah dari perkiraan pasar sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Penelitian Gula Amerika ED&F Man Raissa Cury Pires da Silva mengatakan bahwa dampak dari diterapkannya kembali kebijakan lockdown adalah menurunnya tingkat bepergian masyarakat, sehingga mengurangi permintaan etanol yang digunakan sebagai bahan baku biodiesel.

Hal itu pun dapat mendorong pabrik gula di bagian Amerika Selatan untuk membuat lebih banyak gula dibandingkan dengan memproduksi etanol.

Perkiraan defisit pasokan hingga 7 juta ton untuk musim yang berakhir 30 September pun telah berubah menjadi surplus hingga 800.000 ton.

"Kami menghitung lebih dari 3 juta ton pengurangan konsumsi tahun ini dan bagian tengah selatan kembali memiliki tanaman yang lebih fokus pada gula. Semua perubahan ini telah mematikan pandangan tentang defisit yang kami perkirakan di awal tahun,” ujar da Silva.

Di sisi lain, berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2020) harga gula berjangka untuk kontrak Maret 2021 di bursa ICE masih berada di zona hijau, menguat 1,05 persen ke level 13,51 sen per pon.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gula harga gula Lockdown

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top