Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ketidakpastian Permintaan Dunia, Harga Minyak Bertahan di Bawah US$40 Per Barel

Setelah bergerak fluktuatif, harga mnyak dunia kini mulai kembali ke kisaran harga pada musim panas beberapa waktu lalu, di tengah penantian investor terhadap efektivitas keputusan OPEC+ untuk memangkas produksi.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 23 September 2020  |  07:59 WIB
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia bertahan dibawah level US$40 per barel di tengah kekhawatiran pasar akan permntaan yang akan surut karena kenaikan jumlah kasus positif virus corona.

Sementara itu, rilis data minyak AS yang tidak memberikan kepastian terhadap kondisi pasokan di negara tersebut.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (23/9/2020), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Oktober 2020 turun 0,3 persen ke level US$39,70 per barel pada New York Mercantile Exchange hingga pukul 09.03 waktu Singapura.

Selain itu, harga minyak Brent untuk kontrak bulan November 2020 terpantau turun 0,2 persen pada harga US$41,64 per barel pada bursa berjangka Eropa ICE. Sebelumnya, minyak Brent naik 0,7 persen pada perdagangan Selasa kemarin.

Setelah bergerak fluktuatif, harga mnyak dunia kini mulai kembali ke kisaran harga pada musim panas beberapa waktu lalu. Pelaku pasar kini menanti apakah putusan OPEC+ untuk memangkas produksi minyak harian dapat mempertahankan pasar seiring dengan prospek permintaan minyak dunia yang akan kembali meyusut.

Sementara itu, salah satu negara pengekspor minyak dunia, Libya berencana menambah pasokan minyak. Menurut laporan dari National Oil Corp, Libya akan menidadakan pembatasan di pelabuhan ekspor Zueitina dan memantau situasi keamanan di pelabuhan-pelabuhan lain.

Sementara itu, data dari American Petroleum Institute melaporkan jumlah cadangan minyak mentah Amerika Serikat naik sebesar 700 ribu barel pada pekan lalu. Sementara jumlah cadangan bahan bakar di Negara Paman Sam tersebut berkurang 7,7 juta barel.

Di sisi lain, jumlah kasus positif virus corona kembali mengalami lonjakan di wilayah Eropa, terutama di Inggris dan Perancis. Sementara, jumlah kematian akibat virus corona di Amerika Serikat telah menembus 200 ribu orang.

Gubernur bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan, masih ada jalan yang panjang bagi perekonomian sebelum pulih sepenuhnya, selain membutuhkan lebih banyak dukungan.

Sentimen lain yang akan mempengaruhi pergerakan harga minyak adalah badai tropis Beta yang mengakibatkan wilayah Houston, Texas banjir. 

Meski demikian, pergerakan badai ini terpantau melemah saat memasuki negara bagian Louisiana dan diperkirakan tidak akan mengganggu kegiatan operasi kilang minyak di garis pantai. Sementara, gangguan pada kilang minyak lepas pantai (offshore) diproyeksikan tidak berlangsung lama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak mentah harga minyak mentah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top