Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bidik Peluang di Tengah Pandemi, Sejahtera Bintang (SBAT) Genjot Ekspor ke Amerika Latin

Direktur Utama SBAT, Jefri Junaedi mengatakan bahwa rencananya, SBAT akan terus meluaskan pasarnya di Amerika Latin yang memang punya kebutuhan akan industri tekstil, terutama benang untuk bahan baku alas kaki.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 13 September 2020  |  12:45 WIB
PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. (SBAT) resmi melakukan IPO pada Rabu (8/4 - 2020).
PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. (SBAT) resmi melakukan IPO pada Rabu (8/4 - 2020).

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten tekstil PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk. (SBAT) terus melakukan sejumlah strategi untuk mempertahankan dan meningkatkan ekspornya dengan melebarkan sayapnya dari Asia ke Afrika, Amerika Latin dan Eropa.

Direktur Utama SBAT, Jefri Junaedi mengatakan bahwa rencananya, SBAT akan terus meluaskan pasarnya di Amerika Latin yang memang punya kebutuhan akan industri tekstil, terutama benang untuk bahan baku alas kaki.

“Dalam kesulitan pasti ada jalan. Saat awal-awal pandemi, pasar utama kami di Asia terhambat Covid-19. Tapi sekarang, produk benang kami tembus ke Eropa, yakni Belgia, Rusia, Kroasia dan Ukraina dan beberapa negara Amerika Latin seperti Chili, Uruguay dan Kolombia,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (13/09/2020).

Menurutnya langkahnya tersebut juga sejalan dengan arahan Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto yang terus mengajak para pengusaha untuk menciptakan berbagai inovasi dan terobosan di tengah pandemi agar produknya mampu bersaing di pasar global.

Mendag Agus menerangkan bahwa pemerintah terus mendukung peluang ekspor komoditas Indonesia, termasuk tekstil dan produk tekstil (TPT) lewat sejumlah kebijakan serta sejumlah strategi, seperti penyederhanaan perizinan, pelatihan, insentif dan juga Penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) barang ekspor juga didorong untuk dipercepat.

Dari data yang dimiliki Kemendag, periode Januari–Juni 2020 lalu, ekspor produk TPT Indonesia tercatat sebesar USD5,01 miliar. Kemendag yakin angka ini akan terus meningkat seiring mulai membaiknya situasi ekonomi dunia karena banyak negara yang mulai melakukan penelitian tentang vaksin Covid-19.

Selain hal tersebut, kata Jefri, pemilihan penetrasi bisnis ke Amerika Latin dilakukan SBAT karena juga sesuai dengan harapan Duta Besar RI untuk Argentina merangkap Paraguay dan Uruguay, Niniek Kun Naryati dalam sebuah diskusi belum lama ini.

“Industri kita punya peluang untuk menjadi pemasok bahan baku industri nasional di Argentina, salah satunya produk alas kaki. Permintaan produk yang berkaitan dengan olahraga dan alas kaki menjadi kebutuhan masyarakat Argentina,” kata Niniek.

Menurut Jefri, peluang menguatnya ekspor industri tekstil tanah air juga dibantu Permendag No.57/2020 soal Percepatan Ekspor Bahan Baku untuk Masker dan APD, termasuk di dalamnya bahan-bahan berbasis tekstil, asalkan sudah memenuhi kebutuhan domestik.

Apalagi diketahui bahwa beberapa APD seperti sarung tangan, baju dan masker memerlukan benang berkualitas tinggi.

Bardas Monroe, Praktisi Pasar Modal menilai bahwa emiten berbasis ekspor seperti SBAT yang bergerak di bidang tekstil, diyakini bisa mendulang untung sekaligus penyelamat indeks dalam kondisi pandemi seperti ini.

"Saat ini wajar semua sektor bergerak terbatas. Namun, emiten berorientasi ekspor bergerak relatif baik," katanya.

Saham emiten ekspor, kata Bardas, stabil selama beberapa bulan belakangan ini. "Saya lihat beberapa saham lumayan bagus. Soalnya porsi ekspor mereka besar dan berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Saham SBAT misalnya, itu masih berpeluang naik menuju target harga Rp525, dan layak dicermati untuk diakumulasi dengan batas bahaya atau suport di harga Rp214," jelasnya.

Di bursa saham sendiri, harga saham SBAT naik 6,67% pada perdagangan Jumat, (12/9/2020) kemarin di level Rp256 persensaham dari sebelumnya di level Rp232.

Menurutnya komitmen pemerintah melindungi industri tekstil juga terlihat dari terbitnya Permenkeu No.56 Tahun 2020 yang memberikan bea masuk tindakan pengamanan bagi produk benang (selain benang jahit) dari serat stapel sintetik dan artifisial, untuk mencegah membanjirnya produk benang impor yang melemahkan daya saing industri tekstil dalam negeri.

Besaran bea masuk dibagi dalam tiga periode. Pertama, 27 Mei 2020-8 November 2020 sebesar Rp1.405 per kg. Kedua, 9 November 2020-8 November 2021 yakni Rp1.192 per kg. Ketiga, 9 November 2021-8 November 2022 sebesar Rp979 per Kg.

“Beleid ini bisa membantu SBAT memimpin pasar domestik, sekaligus meluaskan lagi pasar ekspor di lebih dari 22 negara,” kata Bardas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham emiten tekstil Sejahtera Bintang Abadi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top