Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Soal Konversi Devisa Ekspor ke Rupiah, Astra Agro (AALI) Jelaskan Dampaknya

Secara operasional, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) sudah melakukan pembukuan menggunakan mata uang rupiah termasuk pinjaman luar negeri yang sudah dilindung nilai.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 26 Agustus 2020  |  17:59 WIB
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. Santosa (kedua kanan) memberikan penjelasan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta, Senin (15/4/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk. Santosa (kedua kanan) memberikan penjelasan usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta, Senin (15/4/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) menyatakan konversi devisa ekspor ke rupiah tidak akan terlalu memengaruhi kinerja keuangan perseroan.

Sebagai informasi, Bank Indonesia berencana untuk memperketat aturan mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mana terdapat kewajiban bagi eksportir untuk mengkonversikan devisa dari dolar atau valas ke mata uang rupiah.

Presiden Direktur Astra Agro Lestari Santosa mengatakan pihaknya tidak memiliki keluhan mengenai hal tersebut mengingat perseroan akan selalu mengikuti kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia.

Secara operasional, perseroan pun sudah melakukan pembukuan menggunakan mata uang rupiah termasuk pinjaman luar negeri yang sudah dilindung nilai.

“Penjualan ekspor pun walaupun kita mendapatkan dalam nilai dolar Amerika Serikat, tapi karena kita ingin juga memberikan stabilitas, kita juga selalu melakukan lindung nilai,” paparnya, Rabu (26/8/2020).

Dalam pemaparannya, manajemen mengungkap pendapatan dari dalam negeri sebesar Rp3,9 triliun atau 44 persen, dan ekspor sebesar Rp5,1 triliun atau 56 persen dari total penjualan pada semester pertama tahun 2020.

Santosa pun mengakui pada semester pertama ekspor perseroan menurun terutama untuk negara tujuan China dan India akibat dari isu logistik yakni penerapan lockdown.

“Tapi sejak Juni kelihatannya cukup membaik dan kita lihat perkembangan terakhir inventori di China dan India tidak seperti biasanya. Mestinya saat relaksasi dilakukan seperti saat ini, [kinerja] pasti akan lebih baik dibandingkan semester satu tahun ini,” sambungnya.

Di sisi lain, manajemen juga menilai kinerja AALI yang cukup cemerlang pada semester pertama tahun ini sebenarnya berasal dari penguatan harga CPO pada kuartal pertama tahun ini.

Untuk diketahui, AALI mencatat lonjakan laba bersih sebesar 796,6 persen secara tahunan menjadi Rp391 miliar pada paruh pertama tahun 2020.

Sementara, jika dibandingkan dengan kinerja pada tahun 2019 lalu, performa perseroan memang relatif terkontraksi mengingat pendapatannya hanya dihasilkan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir tahun 2019.

“Walaupun produksi sedikit lemah pada kuartal tiga-sampai dengan Agustus-tapi harga meningkat cukup tajam, mudah-mudahan kuartal ketiga membaik. Tentunya manajemen berharap laba bersih bisa lebih dari Rp1 triliun, karena tahun sebelumnya bisa lebih,” ungkap Santosa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah astra astra agro lestari ekspor cpo
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top