Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diselimuti Sentimen Positif, Rupiah Diprediksi Menguat Pekan Depan

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terapresiasi 0,49 persen atau 72,5 poin ke level Rp14.772,5 terhadap dolar AS pada penutupan pasar Rabu (19/8/2020).
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 23 Agustus 2020  |  11:54 WIB
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan dengan persentase penguatan tertinggi di antara semua mata uang Asia pada perdagangan pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terapresiasi 0,49 persen atau 72,5 poin ke level Rp14.772,5 terhadap dolar AS pada penutupan pasar Rabu (19/8/2020). Sepanjang perdagangan hari tersebut, rupiah berada di kisaran Rp14.750 hingga Rp14.789,5.

Sementara, pada perdagangan hari sebelumnya yakni Selasa (18/8/2020), nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp14.845. Sepanjang tahun berjalan, posisi rupiah masih melemah 6,54 persen terhadap dolar AS.

Adapun, perdagangan rupiah pada hari Kamis (20/8/2020) dan Jumat (21/8/2020) ditutup karena hari libur nasional untuk merayakan hari raya Tahun Baru Islam 1442 Hijriyah, sehingga nilai tukar yang digunakan oleh pasar berpatokan pada hari perdagangan Rabu (19/8/2020).

Praktis, rupiah menjadi mata uang terkuat di Asia berdasarkan persentase penguatannya hingga penutupan perdagangan akhir pekan ini.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai sentimen utama penguatan rupiah adalah surplus pada neraca perdagangan dan suku bunga acuan yang bertahan di level 4 persen.

“Saya kira ditahannya suku bunga, ini selaras dengan appetite investor di pasar keuangan, khususnya obligasi,” ungkapnya kepada Bisnis, Jumat (21/8/2020).

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate (7DRR) di posisi 4 persen pada Agustus 2020. Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing tetap di 3,25 persen dan 4,75 persen.

Keputusan ini diambil sesuai dengan pertimbangan kondisi pemulihan ekonomi global di tengah pandemi virus corona. Salah satunya yang terjadi di China, meski pertumbuhan ekonomi di beberapa negara mengalami kontraksi tajam akibat pembatasan mobilisasi pada kuartal II/2020.

Yusuf juga memperkirakan mata uang garuda masih memiliki peluang untuk kembali menguat seiring dengan rencana pemerintah yang kembali akan melelang beberapa instrumen surat utang pada pekan depan.

Senada, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka brahim Assuaibi juga memprediksi posisi rupiah masih akan menguat pada perdagangan Senin (24/8/2020).

“Dalam perdagangan hari Jumat kemungkinan libur karena masuk dalam cuti bersama. Untuk Senin, depan ada kemungkinan rupiah masih akan menguat di level Rp14.720–Rp14.820,” tulisnya dalam rilis, Rabu (19/8/2020).

Dia menggarisbawahi bahwa Bank Indonesia (BI) mencatat neraca pembayaran Indonesia pada periode April-Juni 2020 surplus US$9,2 miliar. Surplus ini merupakan yang tertinggi sejak kuartal kedua tahun 2011 atau sembilan tahun silam.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan mencapai US$2,9 miliar atau setara 1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini membaik dari kuartal sebelumnya yang mencapai 1,4 persen dari PDB.

Defisit di kuartal II/2020 menjadi yang paling kecil sejak kuartal I/2017. “Membaiknya defisit transaksi berjalan menjadi faktor yang begitu krusial dalam mendikte laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil,” sambungnya.

Lebih lanjut, posisi keperkasaan rupiah di antara mata uang Asia lainnya disusul oleh rupee India yang berada pada peringkat kedua setelah berhasil menutup perdagangan pada Jumat (21/8/2020) dengan penguatan sebesar 0,24 persen atau 0,177 poin ke level 74,852 rupee.

Sementara pada posisi ketiga, mata uang peso Filipina juga memimpin dengan penguatan di antara sekeranjang mata uang Asia terhadap dolar AS sebesar 0,16 persen atau 0,08 poin ke level 48,61 peso.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as Rupiah nilai tukar rupiah
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top