Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kimia Farma (KAEF) Pasang Target Penurunan Importasi Bahan Baku

Sejak 2019, Kimia Farma bekerjasama dengan perusahaan Korea Selatan Sungwun Pharmacopia Co. Ltd. untuk memproduksi lima jenis produk dengan target penurunan impor 2,72 persen pada tahun pertama.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  17:32 WIB
Paparan publik PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) pada Rabu (29/7 - 2020). Sebelumnya dalam RUPS perseroan memutuskan pergantian jajaran komisaris. Istimewa
Paparan publik PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) pada Rabu (29/7 - 2020). Sebelumnya dalam RUPS perseroan memutuskan pergantian jajaran komisaris. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten farmasi pelat merah PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) mengutarakan secerca harapan dari kepastian serapan bahan baku lokal dengan adanya aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Kementerian Perindustrian pada akhir kuartal I/2020 menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 16/2020 tentang Ketentuan dan Tata Cara Perhitungan Nilai TKDN Produk Farmasi. Walhasil, perhitungan TKDN tersebut secara kasat mata berbasis produksi.

Direktur Produksi & Supply Chain Kimia Farma Andi Prazos mengungkap perseroan sedang menjalani proses audit yang sedang dalam tahap penghitungan oleh PT Surveyor Indonesia (Persero) terkait dengan produksi TKDN.  

“Tapi berdasarkan roadmap Kimia Farma Sungwun [entitas anak yang memproduksi bahan baku] diharapkan di tahun 2024 kita sudah mengurangi 24 persen impor bahan baku di Indonesia,” ungkap Andi dalam paparan publik perseroan, Rabu (29/7/2020).

Kendati demikian, dalam tahap awal tahun 2020, perusahaan yang tergabung dalam Holding BUMN farmasi tersebut kita berharap bisa menurunkan 2,72 persen penggunaan bahan baku dari impor.

Secara teknis, Andi mengatakan perseroan memiliki portofolio produk simvastatin yang bahan baku kandungan lokalnya mencapai 57 persen. Di sisi lain, perseroan sudah memiliki lima item produk yang sudah diproduksi dan diharapkan bisa menurunkan angka importasi.  

Sebagai gambaran besar, Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menyampaikan market size sektor farmasi di Indonesia pada tahun ini mencapai Rp88,36 triliun.

“Komposisi bahan baku di pasar farmasi di angka 20 persen berarti sekitar Rp15-Rp20 triliun itu bahan baku. 90 persen itu masih impor kurang lebih Rp17-Rp18 triliun itu adalah angka impor dimana angka impor terbesar hampir 60 persen dari China, 30 persen dari India dan 10 persen dari negara lain termasuk di dalamnya Korea Selatan,” jelas Verdi.

Sejak tahun 2019, lanjut Verdi, Kimia Farma bekerjasama dengan perusahaan asal Korea Selatan Sungwun Pharmacopia Co. Ltd. untuk memproduksi lima jenis produk dengan target penurunan itu pada tahun pertama sebesar 2,72 persen.

“Hal yang menggembirakan bahwa Kimia Farma sudah bekerjasama dengan Pertamina menandatangani MoU untuk pengembangan bahan baku obat paracetamol dari hulu, dari kimia dasarnya. Itu yang kita harapkan bisa menurunkan importasi bahan baku,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten kimia farma
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top