Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bursa Global Merah-Merah, IHSG Ikut Berdarah

IHSG ditutup melemah 1,21 persen atau 62,02 poin menjadi 5.082,99, setelah bergerak di rentang 5.074,49 - 5.149,59.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juli 2020  |  15:15 WIB
Pengunjung melintas di dekat papan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (22/6/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung melintas di dekat papan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (22/6/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2020) seiring dengan anjloknya bursa global.

IHSG ditutup melemah 1,21 persen atau 62,02 poin menjadi 5.082,99, setelah bergerak di rentang 5.074,49 - 5.149,59. Terpantau 135 saham hijau, 296 saham merah atau melemah, dan 163 saham stagnan.

Total transaksi harian mencapai Rp8,27 triliun. Investor asing melakukan aksi jual bersih atau net sell hingga Rp741,19 miliar.

Sementara itu, pasar saham global serempak tertekan di zona merah pada perdagangan hari ini, Jumat (24/7/2020), di tengah melonjaknya kekhawatiran seputar eskalasi ketegangan Amerika Serikat-China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 turun tajam 1,6 persen pukul 8.09 pagi waktu London (pukul 14.09 WIB), setelah mampu berakhir di zona hijau pada perdagangan Kamis (23/7/2020).

Kontrak berjangka indeks S&P 500 AS ikut melemah 0,8 persen siang ini, indeks MSCI Asia Pacific merosot 1 persen, dan indeks MSCI Emerging Market anjlok 1,7 persen.

Indeks Stoxx Europe 600 dibuka di zona merah dan bursa saham China didera aksi jual setelah Beijing memerintahkan AS menutup kantor konsulatnya di Chengdu sebagai pembalasan atas perintah AS untuk menutup kantor konsulat China di Houston.

“Tindakan yang diambil oleh China adalah respons yang sah dan perlu atas tindakan yang tidak bisa dibenarkan dari AS,” papar Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan pada Jumat, seperti dilansir Bloomberg.

Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa pihaknya telah membuat tuntutan khusus atas penghentian semua operasi dan agenda oleh kantor konsulat AS.

“Situasi saat ini dalam hubungan China-AS bukanlah yang diinginkan China untuk dialami, dan AS bertanggung jawab atas semua ini,” lanjut Kemenlu China.

Langkah terbaru Beijing menambah ancaman atas hubungan yang telah memburuk dengan AS dalam beberapa bulan terakhir karena berbagai isu mulai dari perdagangan hingga penanganan pandemi Covid-19.

“Kami tidak akan terkejut jika terjadi aksi jual karena investor mengalihkan fokus mereka kembali pada ketegangan geopolitik ini,” ujar Direktur investasi di Brewin Dolphin Janet Mui, dikutip dari Bloomberg.

Turut memukul sentimen adalah rilis data klaim pengangguran mingguan AS yang menunjukkan peningkatan untuk pertama kalinya sejak Maret.

Menurut data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis (23/7), klaim pengangguran awal mencapai 1,42 juta orang untuk pekan yang berakhir pada 18 Juli atau bertambah sebanyak 109.000 dari pekan sebelumnya.

Jumlah tersebut lebih tinggi dari proyeksi para ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan klaim awal akan mencapai 1,3 juta, dengan kisaran proyeksi antara 1-1,55 juta.

Kongres AS dikabarkan sedang merundingkan paket bantuan baru untuk jutaan warga Amerika yang akan kehilangan tunjangan pada akhir bulan ini.

Di pasar mata uang, Bloomberg Dollar Index turun 0,2 persen, nilai tukar euro terhadap dolar AS naik 0,1 persen menjadi US$1,1609, dan nilai tukar yuan onshore melemah 0,2 persen menjadi level 7,02 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham Indeks BEI bursa global
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top