Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS-China Makin Panas, Bursa Asia Merosot

Bursa saham di Asia melemah setelah pemerintah China akhirnya mewujudkan ancamannya dengan memerintahkan AS untuk menutup kantor konsulat AS di kota barat daya Chengdu.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 24 Juli 2020  |  15:11 WIB
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China. -  Qilai Shen / Bloomberg
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China. - Qilai Shen / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham di Asia mengakhiri pergerakan xdi zona merah pada perdagangan hari ini menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup melemah masing-masing 0,62 persen dan 0,58 persen pada perdagangan Jumat (24/7/2020). Adapun, indeks Shanghai Composite melemah 3,86 persen dan CSI 300 anjlok 4,39 persen.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng melemah 2,59 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,71 persen.

Bursa saham di Asia melemah setelah pemerintah China akhirnya mewujudkan ancamannya dengan memerintahkan AS untuk menutup kantor konsulat AS di kota barat daya Chengdu.

Langkah balasan ini direalisasikan hanya berselang sekitar 48 jam setelah tersiar informasi bahwa pemerintah AS memerintahkan China untuk menutup kantor konsulatnya di Houston.

“Tindakan yang diambil oleh China adalah respons yang sah dan perlu atas tindakan yang tidak bisa dibenarkan dari AS,” papar Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan, Jumat (24/7/2020), seperti dilansir Bloomberg.

Langkah terbaru Beijing menambah ancaman atas hubungan yang telah memburuk dengan AS dalam beberapa bulan terakhir karena berbagai isu mulai dari perdagangan hingga penanganan pandemi Covid-19.

“Kami tidak akan terkejut jika terjadi aksi jual karena investor mengalihkan fokus mereka kembali pada ketegangan geopolitik ini,” ujar Direktur investasi di Brewin Dolphin Janet Mui, dikutip dari Bloomberg.

Turut memukul sentimen adalah rilis data klaim pengangguran mingguan AS yang menunjukkan peningkatan untuk pertama kalinya sejak Maret.

Menurut data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis (23/7), klaim pengangguran awal mencapai 1,42 juta orang untuk pekan yang berakhir pada 18 Juli atau bertambah sebanyak 109.000 dari pekan sebelumnya.

Jumlah tersebut lebih tinggi dari proyeksi para ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan klaim awal akan mencapai 1,3 juta, dengan kisaran proyeksi antara 1-1,55 juta.

Kongres AS dikabarkan sedang merundingkan paket bantuan baru untuk jutaan warga Amerika yang akan kehilangan tunjangan pada akhir bulan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia china amerika serikat bursa china
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top