Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Emiten Unggas Kembali Berkokok, Rekomendasi Saham yang Paling Profit

Berdasarkan data Bloomberg, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) bergerak dalam tren positif awal semester II/2020.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  10:35 WIB
Day old chicken (DOC). - Repro/Malindo Feedmil
Day old chicken (DOC). - Repro/Malindo Feedmil

Bisnis.com,JAKARTA— Kinerja emiten sektor perunggasan diprediksi akan membaik pada semester II/2020. Pulihnya permintaan serta rerata harga jual pada periode normal baru akan menjadi pendorong.

Berdasarkan data Bloomberg, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) bergerak dalam tren positif awal semester II/2020.

Harga saham CPIN telah naik 2,60 persen ke level Rp5.925 periode berjalan semester II/2020. Emiten perunggasan itu tercatat memiliki kapitalisasi senilai Rp97,16 triliun per akhir sesi Rabu (22/7/2020).

JPFA juga tengah tancap gas pada periode berjalan semester II/2020. Saham perseroan naik 25 persen ke level Rp1.125 sejak awal paruh kedua tahun ini.

Adapun, saham MAIN juga ikut terbang 21,78 persen ke level Rp615 hingga akhir sesi Rabu (22/7/2020).

Analis Reliance Sekuritas Indonesia Anissa Septiwijaya mengatakan kinerja sektor perunggasan masih kurang memuaskan pada semester I/2020. Kondisi itu dipicu penurunan permintaan dan harga yang signifikan khususnya selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Anissa menyebut harga ayam mulai mengalami perbaikan pada Juni 2020. Akan tetapi, pemulihan itu belum membawa kinerja emiten perunggasan menjadi positif pada kuartal II/2020.

“[Belum dapat membawa kinerja positif] karena adanya penurunan signifikan harga ayam pada April 2020,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (22/7/2020).

Kendati demikian, dia memprediksi kinerja emiten perunggasan akan lebih pada semester II/2020. Hal itu seiring dengan pemulihan permintaan dan rerata harga jual.

Pemulihan permintaan dan rerata harga jual, lanjut dia, didukung oleh pembukaan kembali restoran dan mal meski belum normal. Di sisi lain, kenaikan harga ayam terjadi karena penurunan pasokan selama pandemi Covid-19.

“Untuk stockpick di sektor poultry kami rekomendasikan JPFA dengan target harga Rp1.540,” jelasnya.

Anissa mengatakan JPFA menjadi pilihan karena didukung oleh kinerja pakan yang masih positif. Perseroan juga mampu menjaga margin keuntungan tetap stabil.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A. Fauni mengungkapkan harga ayam pedagin di tingkat petani Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur naik mengalami kenaikan secara month on month (MoM) pada Juni 2020.

Posisi kenaikan itu menurutnya cukup melanjutkan tren kenaikan harga broiler yang telah dimulai sejak pertengahan Mei 2020.

Emma menyebut harga broiler dalam tren menurun memasuki Juli 2020. Pergerakan di tingkat petani di sebagian besar wilayah Jawa menyentuh Rp16.000—Rp17.000 per kilogram.

“Kemungkinan harga broiler memasuki operating loss level dari kisaran puncak Rp23.000—Rp24.000 per kilogram pada pekan pertama Juli 2020,” jelasnya.

Emma melihat risiko penurunan jangka pendek untuk sektor perunggasan. Hal itu disebabkan oleh faktor musiman.

“Kendati demikian, relaksasi PSBB secara bertahap, lebih banyak saluran distribusi yang mulai dibuka kembali, mendatangkan permintaan untuk penyerapan pasokan meskipun sulit kembali ke tingkat sebelum Covid-19,” paparnya.

Dia menyebut harga saham emiten sektor perunggasan sangat terkait dengan pergerakan harga ayam pedaging. Dalam waktu dekat, risiko penurunan harga saham menurutnya sudah di depan mata.

Emma mempertahankan pandangan netral untuk sektor perunggasan. Pihaknya mempertimbangkan risiko penurunan yang akan datang sejalan melemahnya harga broiler hanya dalam jangka pendek.

“Secara keseluruhan, kami mengharapkan peningkatan permintaan akan mencegah harga broiler bergerak terlalu fluktuatif. JPFA tetap menjadi pilihan utama kami

karena sangat undervalued dibandingkan dengan perusahaan sejenis,” tuturnya.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama Japfa Comfeed Indonesia Bambang Budi Hendarto mengatakan beberapa langkah strategis telah dirumuskan untuk menghadapi perubahan yang dinamis khususnya terkait pandemi Covid-19. Perseroan mengklaim telah melakukan efisiensi hasil dari inovasi perusahaan dalam proses produksi dengan tetap menjaga kualitas produk, dalam operasional internal, serta segi pengembangan SDM.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri, JPFA akan terus meningkatkan produktivitasnya,” jelasnya melalui siaran pers beberapa waktu lalu.

Bambang menjelaskan bahwa perseroan tetap melakukan lindung nilai atau hedging terhadap seluruh kewajiban obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) yang diterbitkan untuk pokok ataupun bunga. Operational hedging juga diterapkan sebagai upaya menurunkan risiko terhadap kewajiban pembayaran dalam mata uang asing.

“Terutama untuk pembelian bahan baku pakan ternak kepada para supplier dengan jangka waktu 2 bulan—3 bulan ke depan,” ujarnya.

JPFA membukukan pertumbuhan bersih Rp2,7 triliun dari Rp34 triliun periode 2018 menjadi Rp36,7 triliun pada 2019. Akan tetapi, laba bersih yang dikantongi turun dari Rp2,16 triliun akhir Desember 2018 menjadi Rp1,76 triliun per 31 Desember 2019.

Bambang menuturkan kontribusi terbesar diberikan oleh segmen usaha pakan ternak sebesar 45 persen. Lini itu tetap menjadi penopang utama industri terlepas dari kondisi industri perunggasan yang sangat dinamis pada 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

japfa comfeed rekomendasi saham charoen pokphand indonesia malindo feedmill
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top