Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Obligasi Diramal Kembali Menggeliat, Tersengat Dua Kebijakan Bank Indonesia

Dua kebijakan yang diterbitkan dalam kurang dari satu bulan dinilai bakal menarik investor asing kembali melirik pasar obligasi.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  15:55 WIB
Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat. - istimewa
Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Dua kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dikeluarkan bulan ini yakni skema burden sharing serta pemangkasan suku bunga acuan dinilai bakal memperkuat pasar obligasi.

Seperti diketahui, awal bulan ini BI dan pemerintah bersepakat berbagi peran dengan Kementerian Keuangan dalam skema burden sharing untuk pembiayaan dana penanganan dan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Selanjutnya BI juga memutuskan kembali memangkas suku bunga acuan menjadi 4 persen.

Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menilai burden sharing mengurangi supply risk surat berhaga negara (SBN), terutama di pasar obligasi domestik.

BI sendiri akan sepenuhnya menyerap SBN yang dikeluarkan pemerintah yang ditujukan untuk belanja publik. Belanja untuk manfaat publik ini sebesar Rp397,56 triliun, meliputi belanja kesehatan Rp87,55 triliun, perlindungan sosial Rp203,9 triliun, dan sektoral kementerian, lembaga dan pemda Rp106,11 triliun.

“Memang betul, investor asing kini sedang menyikapi dampak pembelian SBN oleh BI terhadap rupiah, terutama setelah BI kembali memangkas bunga,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Selasa (21/7/2020)

Di sisi lain, rupiah berpotensi terus menguat. Budi menilai tekanan terhadap rupiah sebulan terakhir bersifat temporer bila mencermati lonjakan harga emas yang berlawanan dengan pelemahan indeks dollar global (DXY) sementara penurunan suku bunga global LIBOR pada batas terendah dalam sejarah jelas menunjukkan terjadi kelebihan likuiditas.

Dia menyebut selain faktor eksternal pelemahan dolar, potensi penguatan rupiah hingga ke level 13.930 pada akhir tahun dimungkinkan oleh faktor internal penurunan defisit neraca berjalan yang selaras dengan perlambatan ekonomi. Maka dari itu, Budi menyakini pada akhirnya investor asing akan kembali melirik SBN mengingat imbal hasil yang ditawarkan lebih tinggi dibanding negara lain.

Adapun terkait keputusan BI untuk kembali memangkas bunga kebijakan, Budi menilai cukup beralasan mengingat laju penyaluran kredit terbukti sangat lemah sementara suku bunga saat ini masih melebihi proyeksi inflasi yang ditaksir sekitar 3,35 persen pada tahun 2020. 

Dia berharap pada semester II/2020 pemerintah ini mempercepat realisasi penyerapan stimulus baik untuk sektor kesehatan, bantuan sosial, penguatan UMKM dan korporasi agar roda perekonomian mulai bergerak. Percepatan stimulus ini sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan dan kemauan perbankan untuk kembali menyalurkan kredit.

“Percepatan stimulus yang memperkuat daya beli dan penurunan yield SBN meningkatkan valuasi dan, dengan demikian, peluang kenaikan harga saham,” simpulnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi bank indonesia
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top