Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pikat Minat Investor, Obligasi Korporasi Bakal Bersaing dengan SBN

Di paruh kedua 2020, ada sekitar 36 instrumen obligasi dan sukuk akan diterbitkan obligor. Sementara itu, pemerintah juga punya target penerbitan SBN Rp900 triliun hingga akhir 2020 mendatang.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 17 Juli 2020  |  11:18 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com,JAKARTA — Obligasi korporasi dan obligasi pemerintah akan menjadi dua instrumen surat utang yang beradu kuat untuk menarik minat investor di sepanjang paruh kedua 2020.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 30 perusahaan siap mencatatkan 36 instrumen obligasi dan sukuk di pasar modal. Surat utang itu akan bersaing dengan rencana pemerintah menggalang dana di pasar modal melalui instrumen surat berharga negara (SBN).

Berdasarkan catatan Bisnis, sisa penerbitan SBN pemerintah mencapai Rp900,4 triliun di paruh kedua 2020. Kebutuhan itu akan dipenuhi melalui lelang di pasar domestik, penerbitan SBN ritel Rp30 triliun—Rp40 triliun, private placement, penerbitan SBN valas, dan SBN skema khusus ke Bank Indonesia.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengungkapan ketersediaan likuiditas di pasar saat ini cukup besar. Kondisi itu sejalan dengan kebijakan bank sentral di berbagai belahan dunia yang menggelontorkan dana akibat dampak dari Covid-19.

“Banyak investor yang sedang mencari instrumen investasi. Kalau instrumen bagus masih dicari,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (16/7/2020).

Hans menilai instrumen obligasi korporasi akan bersaing dengan SBN. Akan tetapi, keduanya memiliki segmen investor yang berbeda.

Dia menyebut SBN akan menjadi pilihan investor dengan profil risiko rendah. Sebagai konsekuensi, kupon yang ditawarkan menjadi lebih rendah.

Sebaliknya, obligasi korporasi menurutnya akan dicari oleh investor yang membutuhkan diversifikasi portofolio. Risiko lebih tinggi membuat instrumen itu menawarkan tingkat imbal hasil lebih besar.

Hans menyarankan agar investor memilih obligasi korporasi dari perusahaan dengan prospek bisnis menjanjikan. Dengan demikian, potensi gagal bayar atau default dari surat utang menjadi lebih kecil.

Di lain pihak, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai tantangan cukup besar dihadapi dalam penerbitan obligasi korporasi. Pasalnya, instrumen itu harus bersaing dengan surat utang pemerintah yang tengah didorong penyerapannya.

“Dari sisi likuiditas, SBN jauh lebih likuid dari obligasi korporasi,” jelasnya.

Ramdhan mengungkapkan tantangan dalam penerbitan obligasi terlihat dari hasil penerbitan beberapa instrumen baru-baru ini. Total penghimpunan dana dari emisi obligasi sejumlah penerbit di bawah target awal.

“Underwriter agak susah menjual obligasi korporasi karena bersaing dengan SBN,” paparnya.

Selain bersaing dengan SBN, lanjut dia, minat investor terhadap obligasi korporasi berkurang karena pemangkasan peringkat kredit beberapa penerbit. Kondisi itu juga membuat harga obligasi korporasi di pasar sekunder mengalami penurunan yang tercermin dari kenaikan yield atau imbal hasil.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi surat utang negara
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top