Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Belum Setahun Lippo Karawaci Habiskan Rp10 Triliun, Buat Apa?

Pada Oktober tahun lalu, emiten berkode saham LPKR itu menggalang dana lewat skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sebanyak US$787 juta.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 14 Juli 2020  |  10:32 WIB
Lippo Mall Kemang - Laman LippoMalls
Lippo Mall Kemang - Laman LippoMalls

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk. telah menghabiskan dana sebesar Rp10,16 triliun.

Pada Oktober tahun lalu, emiten berkode saham LPKR itu menggalang dana lewat skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sebanyak US$787 juta. Jumlah tersebut setara dengan Rp11,12 triliun dengan asumsi nilai mata tukar Rp14.130.

Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya melaporkan bahwa perseroan telah merealisasikan penggunaan Rp10,16 triliun. Anak usaha Grup Lippo itu menghabiskan Rp2,64 triliun untuk membayarkan utang.

Diantaranya adalah utang obligasi Rp1,10 triliun, utang UBSDB Rp713 miliar dan utang Bank BNI Rp250 miliar. Selain itu, induk usaha RS Siloam dan Lippo Cikarang itu juga menggunakan hasil HMETD untuk membayar bunga dan sewa masing-masing Rp1,12 triliun dan Rp1,31 triliun.

Dana dari sisa penawaran umum digunakan oleh perseroan untuk menambah modal di anak usaha sebesar Rp3,57 triliun. LPKR juga memakai dana sebanyak Rp1,09 triliun untuk ekspansi dan Rp1,28 triliun sebagai modal kerja.

Perseroan menargetkan dapat menyelesaikan 8 proyek yang telah dimulai termasuk Meikarta menggunakan dana tersebut. Sementara untuk target jangka menegah LPKR dalam 5—10 tahun ke depan adalah membangun 100.000 unit hunian.

Adapun sisa dana hasil penawaran umum yang kini tersisa mencapai Rp1,07 triliun. Sisa dana kemungkinan akan digunakan untuk membayar sisa bunga, sewa dan hedging. Selain itu juga bisa dipakai untuk menambah penyertaan modal di entitas usaha.

Sementara itu, pada kuartal I/2020 LPKR telah mencetak pendapatan sebesar Rp3,10 triliun naik 8,5 persen secara tahunan.

Pada tahun sebelumnya emiten properti itu membukukan pendapatan sebesar Rp2,85 triliun. Adapun penopang kenaikan pendapatan adalah segmen recurring income dengan healthcare sebagai motor pendorong.

Pos layanan kesehatan menyumbang Rp1,87 triliun naik 9,7 persen secara tahunan serta diikuti oleh mall Rp126 miliar naik 1,7 persen. Sementara itu segmen pembangunan properti menyumbang Rp678 miliar naik 112,3 persen dari posisi Rp604 miliar.

Manajemen mengungkapkan segmen penjualan properti bersumber dari pengakuan pendapatan dari Orange County di Lippo Cikarang.  Komplek apartemen Orange County mencatatkan pendapatan sebesar Rp279 miliar di kuartal I/2020 atau meningkat sebesar 62 persen secara tahunan dari Rp172 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lippo karawaci lpkr
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top