Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Refinancing Komodo Bond, Wijaya Karya (WIKA) Siapkan Obligasi Baru

Direktur Keuangan Wijaya Karya Ade Wahyu mengungkapkan rencana menerbitkan obligasi penawaran umum berkelanjutan (PUB) pada semester II/2020.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 10 Juli 2020  |  14:52 WIB
Susana Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2019 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. di Jakarta, Senin (8/6/2020). RUPS berlangsung dengan menerapkan protokol menjaga jarak fisik. - wika
Susana Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2019 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. di Jakarta, Senin (8/6/2020). RUPS berlangsung dengan menerapkan protokol menjaga jarak fisik. - wika

Bisnis.com, JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) berencana menerbitkan obligasi untuk refinancing komodo bond yang diterbitkan awal 2018 silam.

Direktur Keuangan Wijaya Karya Ade Wahyu mengungkapkan rencana menerbitkan obligasi penawaran umum berkelanjutan (PUB) pada semester II/2020. Kontraktor pelat merah itu kini tengah memproses perizinan untuk rencana emisi.

“Perseroan direncanakan akan menerbitkan obligasi berdenominasi rupiah yang penerbitannya sendiri untuk tahap 1 direncanakan pada kuartal IV/2020,” tuturnya kepada Bisnis, dikutip Jumat (10/7/2020).

Ade mengatakan dana dari penerbitan obligasi akan digunakan untuk refinancing obligasi komodo. Selain itu, hasil emisi dialokasikan untuk kebutuhan operasional dan investasi Wijaya Karya.

“Harapannya pasar keuangan lebih baik semester II/2020, sehingga cost of fund dan daya serap menjadi lebih baik juga,” imbuhnya.

Sebagai catatan, Wijaya Karya telah mengeksekusi penerbitan komodo bond pada 29 Januari 2018. Saat itu, emiten berkode saham WIKA tersebut mengantongi US$405 juta atau setara Rp5,4 triliun dari penerbitan obligasi global berdenominasi rupiah atau komodo bond di London Stock Exchange (LSE).

Pesananan untuk komodo bond WIKA mencatatkan oversubscribe 2,5 kali lipat. Dari total Rp5,4 triliun yang dibidik, pesanan yang masuk mencapai Rp13,3 triliun.

Sementara itu, Wijaya Karya mengantongi nilai kontrak baru (NKB) sebesar Rp3,14 triliun hingga akhir Mei 2020.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya menjelaskan bahwa perolehan kontrak sebagian besar berasal dari produk-produk precast concrete. Kontributor selanjutnya berasal dari proyek-proyek infrastruktur. Hal tersebut meliputi pembangunan jalanan, gedung-gedung dan lain-lain.

Secara rinci, perolehan kontrak baru WIKA berasal dari industri sebesar Rp1,61 triliun, infrastruktur dan bangunan sebesar Rp111 triliun, energi dan industrial plant Rp143 miliar, serta properti sebesar Rp275,74 miliar

"Mayoritas kontrak baru ini merupakan program-program pembangunan dari pemerintah," katanya saat dihubungi pada Rabu (8/7/2020) di Jakarta

Bila dibandingkan dengan April 2020, WIKA tercatat masih memperoleh kontrak baru secara bulanan. Pada April 2020 nilai kontrak baru yang didapatkan WIKA tercatat sebesar Rp2,83 triliun.

"Saat ini kami juga sedang mengikuti tender proyek di kisaran Rp10 triliun hingga Rp15 triliun," katanya.

Mahendra mengatakan, WIKA optimistis masih akan meraup sejumlah kontrak baru hingga akhir tahun 2020. Pasalnya,pemerintah masih akan membuka tender-tender proyek besar. Selain itu, beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar juga akan melakukan hal serupa

Di sisi lain, Mahendra mengakui pandemi virus corona cukup memukul kegiatan bisnis WIKA. Untuk itu, perusahaan tengah mengkaji revisi target nilai kontrak baru untuk tahun 2020.

"Kami sedang mengevaluasi Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) karena situasi Covid-19 ini, ditargetkan akhir Juli ini bisa selesai," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN wijaya karya obligasi korporasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top