Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bursa Asia Menghijau, IHSG Ditutup Menguat Tipis

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup menguat 0,14 persen atau 7,01 poin ke level 4.973,79 pada akhir perdagangan.
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis/Abdurachman
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan hari ini, Jumat (3/7/2020).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup menguat 0,14 persen atau 7,01 poin ke level 4.973,79 pada akhir perdagangan.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG begerak dalam kisaran 4.964,11-4.997,48.

Adapun pada perdagangan Kamis (2/7), IHSG ditutup menguat 1,07 persen atau 52,39 poin ke level 4.966,78.

Sebanyak 5 dari 9 sektor bergerak di zona hijau, didorong oleh sektor tambang yang menguat 2,07 persen dan infrstruktur yang terapresiasi 0,27 persen. Empat sektor lainnya melemah, didorong oleh properti yang terkoreksi 1,56 persen.

Sebanyak 176 saham menguat, 222 saham melemah, dan 172 saham stagnan.

IHSG menguat sejalan dengan bursa saham di Asia yang juga terapresiasi. Indeks Nikkei 225 Jepang yang menguat 0,72 persen, indeks Shanghai Composite menguat 2,01 persen, dan Hang Seng menguat 0,99 persen.

Departemen Tenaga Kerja yang menunjukkan bahwa payroll naik 4,8 juta pada bulan Juni dan bulan sebelumnya direvisi lebih tinggi. Data tersebut menambah dorongan dari data yang bahwa penurunan cadangan minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan.

Presiden Donald Trump masih mengatakan laporan tersebut menunjukkan ekonomi sedang "meraung kembali." Stimulus kebijakan moneter dan fiskal besar-besaran membantu menurunkan suku bunga dan menjaga likuiditas sistem keuangan di masa sulit.

"Masih ada sentimen positif umum mengenai seberapa cepat pemulihan terjadi. Tetapi kami pikir pemulihan cenderung lambat, terutama jika melihat jumlah kasus virus corona terus meningkat,” kata presiden pasar global di TIAA Bank, Chris Gaffney.

Investor juga menimbang pernyataan dari Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow, yang mengatakan kepada Fox Business Network bahwa AS sangat tidak senang dengan China dan berencana melakukan pembatasan ekspor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper