Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sampoerna Agro (SGRO) Genjot Produksi CPO di Semester II/2020

Hingga akhir tahun, emiten bersandi saham SGRO berharap bisa mencapai produksi  388.929 ton, naik 10 persen dibandingkan realisasi tahun lalu 385.079 ton.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  15:38 WIB
Pekerja mengangkat buah sawit yang dipanen di Kisaran, Sumatera Utara, Indonesia. - Dimas Ardian / Bloomberg
Pekerja mengangkat buah sawit yang dipanen di Kisaran, Sumatera Utara, Indonesia. - Dimas Ardian / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – PT Sampoerna Agro Lestari Tbk. (SGRO) bakal menggenjot produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di paruh kedua sehingga bisa mengerek 10 persen dari pencapaian tahun lalu.

Head Investor Relations Sampoerna Agro Michael Kesuma  mengatakan di paruh kedua perseroan berharap realisasi target produksi bisa mencapai 60 persen, lebih tinggi dari posisi paruh pertama sebesar 40 persen.

Hingga akhir tahun, emiten bersandi saham SGRO berharap bisa mencapai produksi  388.929 ton, naik 10 persen dibandingkan realisasi tahun lalu 385.079 ton. Produksi diharapkan bisa naik karena tidak menghadapi kendala cuaca seperti tahun lalu..

“Produksi akan bergeser ke semester II dengan kemungkinan 60 persen dari total produksi. Semester I cukup berat karena siklus panen yang rendah diikuti dengan covid-19,” katanya kepada Bisnis pada Kamis (2/7/2020).

Menurutnya dengan peningkatan volume produksi terdapat kemungkinan peningkatan permintaan. Michael mengatakan China sudah memperlunak pembatasan begitu juga dengan India. Dengan begitu, produsen dapat melakukan aktivitas ekspor CPO.

Selain itu, Hari Raya Diwali di India juga akan meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit dari Indonesia. “Kami optimistis harga akan terus bertahan di level sekarang [MYR2.300 per ton] tidak terlalu tinggi tapi juga tidak terlalu rendah,” katanya.

Produsen CPO, lanjut Michael, telah melewati masa paling berat dari 2020 yakni penurunan harga hingga MYR1.946 per ton akibat virus korona. Menurutnya sejauh ini belum ada katalis negatif yang bisa mendorong harga CPO turun.

“Kami bahkan lebih optimistis lagi dengan program B30 karena serapan menjadi terjaga. Selain itu, pemerintah juga kemungkinan akan melanjutkannya dengan B40 pada tahun depan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah memangkas asumsi biaya konversi minyak sawit mentah menjadi biodiesel sebesar 20 persen menjadi US$80 per metrik ton.

Kementerian menurunkan indeks harga pasar biodiesel pada Juni menjadi Rp6.941 per liter dari posisi Mei Rp8.335 per liter. Indeks yang lebih rendah akan mengurangi kesenjangan harga untuk program B30.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga cpo sampoerna agro
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top