Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gelombang Kedua Covid-19 Ancam Permintaan Minyak AS  

Kembali meningkatnya penularan Covid-19 di Amerika Serikat, terutama di beberapa negara bagian, membuat permintaan minyak di negara tersebut diprediksi terkoreksi.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 28 Juni 2020  |  14:18 WIB
Pengeboran minyak lepas pantai. Bloomberg
Pengeboran minyak lepas pantai. Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Kemunculan kasus baru di tiga negara bagian Amerika Serikat yang menjadi pasar terbesar bahan bakar mengancam pemulihan permintaan minyak Paman Sam.

Dilansir dari Bloomberg Minggu (28/6/2020), warga di tiga negara bagian Amerika Serikat (AS) yakni California, Florida, dan Texas, kembali mengurungkan niatnya untuk melakukan perjalanan. Kondisi itu diakibatkan serangan kasus baru Covid-19 yang kembali mengalami peningkatan.

California, Texas, dan Florida menyumbang lebih dari 40 persen kasus Covid-19 baru pada 24 Juni 2020. Standard Chartered Plc. melihat lonjakan kasus tiga negara bagian itu akan menekan pemulihan konsumsi bahan bakar.

"Jika Florida, California, dan Texas bereaksi terhadap hal ini dengan mengeluarkan shelter-in-place atau menambahkan pembatasan baru pada pergerakan, ini tentu dapat merusak permintaan bensin," ujar Analis GasBuddy Patrick DeHaan dilansir melalui Bloomberg, Minggu (28/6/2020).

AS melaporkan gelombang kedua wabah Covid-19 dengan 39.907 kasus baru pada Kamis (25/6/2020). Data itu tersebut berpeluang membuat warga AS harus kembali tinggal di dalam rumah dan menunda mobilitasnya di luar rumah.

Bloomberg melaporkan permintaan minyak di Amerika Serikat menurun dalam beberapa hari terakhir. Salah satu jalan bebas hambatan di Houston, Texas, kembali sepi setelah sebelumnya mulai macet pada awal Juni 2020.

Data yang dikumpulkan oleh BloombergNEF menunjukkan kemacetan jalab di AS berada di bawah normal. Perjalanan pada jam sibuk di Los Angeles pada pekan lalu membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pekan ini.

Head of Oil Products Research Energy Aspects Ltd Robert Campbell mengungkapkan saat ini memiliki pekerjaan yang lebih sedikit. Selain itu, banyak perusahaan saat ini meminta orang-orang untuk tidak datang ke kantor.

“Tidak dapat dibayangkan bahwa permintaan bensin akan menjadi lebih tinggi musim panas ini,” ujarnya.

Ancaman penurunan terhadap minyak AS juga datang dari konsumen minyak terbesar di dunia, China. Gelombang kedua infeksi Covid-19 di Beijing menekan minat terhadap pasokan minyak dari Negeri Paman Sam.

Tanda melemahnya permintaan dari China mulai terlihat dari harga ekspor minyak mentah AS. Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pasokan Agustus di sepanjang Gulf Coast AS sekarang diperdagangkan sekitar 80 hingga 90 sen per barel di atas Nymex berjangka atau turun dari hampir US$1,15 per barel premium pada pekan lalu.

Sebelumnya penyebaran gelombang kedua Covid-19, pembeli asal China mengambil banyak minyak dengan harga murah dari AS. Laporan pengolahan minyak mentah melonjak bahkan dari sebelum dimulainya pandemi.

Data yang dikompilasi Bloomberg menunjukkan pembelian 23 juta barel minyak mentah AS untuk pengangkutan Mei 2020 dikirimkan ke kilang domestik dan sekitar 12 juta barel dikapalkan ke China.

Adapun, Bloomberg mencatat hanya pengiriman dari AS ke China hanya 2 juta barel pada bulan April 2020. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak amerika serikat covid-19
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top