Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ada Stimulus, Calon Emiten Antre Masuk Bursa

Walaupun mendapat banyak stimulus, calon emiten dinilai akan tetap memperhatikan kondisi pasar modal sebelum merealisasikan rencana IPO.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  06:30 WIB
Pegawai melintas di depan layar monitor perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (3/6/2020). Bisnis - Abdurachman
Pegawai melintas di depan layar monitor perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (3/6/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com,JAKARTA — Stimulus potongan sebesar 50 persen untuk biaya pencatatan awal saham menjadi angin segar bagi calon emiten yang akan mengeksekusi initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia hingga akhir 2020.

Self Regulatory Organization (SRO) melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pekan lalu kembali mengucurkan stimulus kepada para pemangku kepentingan pasar modal. Kebijakan itu diharapkan menjaga optimisme pasar meski industri tengah dihadapkan kepada dampak dari pandemi Covid-19.

BEI memberikan stimulus pemotongan sebesar 50 persen untuk biaya pencatatan awal saham dan atau biaya pencatatan saham tambahan dari perhitungan nilai masing-masing biaya bagi perusahaan tercatat atau calon perusahaan tercatat. Kebijakan itu mulai berlaku sejak 18 Juni 2020 hingga 17 Desember 2020.

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat mengatakan pihaknya menyambut positif stimulus yang diberikan oleh BEI. Menurutnya, kebijakan itu cukup membantu calon emiten yang akan melakukan IPO.

“Kebijakan tersebut menunjukkan kepedulian SRO kepada emiten dalam masa yang sulit ini,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (23/6/2020).

Samsul menyebut saat ini masih ada minat calon emiten untuk melantai perdana BEI. Akan tetapi, keputusan itu bergantung kepada jenis industri perusahaan.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Dannif Danusaputro mengatakan stimulus potongan 50 persen untuk biaya pencatatan awal bermanfaat untuk calon emiten. Menurutnya, kebijakan itu akan efektif mendorong minat IPO sampai dengan akhir tahun.

“Namun juga penting untuk diingat bahwa pertimbangan utama IPO tetap kepada kondisi market,” jelasnya.

Dannif mengungkapkan terdapat beberapa calon emiten dalam pipeline Mandiri Sekuritas. Pihaknya mengharapkan kondisi pasar dan perekonomian membaik dalam 3 bulan hingga 6 bulan ke depan.

“Sehingga satu hingga dua emiten bisa IPO pada 2020,” imbuhnya.

Corporate Secretary PT Panin Sekuritas Tbk. Prama Nugraha menilai stimulus yang diberikan oleh BEI cukup menarik. Hal itu khususnya bagi calon emiten yang sedang memproses dan akan melakukan pencatatan perdana sampai dengan akhir 2020.

“Kalau untuk perusahaan yang baru mulai proses persiapan mungkin baru bisa listing tahun depan. Harapannya, diskon tersebut bisa diperpanjang sampai tahun depan,” paparnya.

Prama mengatakan saat ini perseroan tengah mempersiapkan satu perusahaan untuk melantai perdana di BEI. Calon emiten itu berasal dari sektor properti.

Presiden Direktur PT RHB Sekuritas Indonesia Iwanho menilai stimulus yang dikeluarkan oleh SRO lewat koordinasi OJK sangat membantu calon emiten yang akan IPO. Akan tetapi, kondisi makro ekonomi tetap menjadi pertimbangan untuk mengeksekusi penawaran umum perdana saham.

“Mereka [calon emiten] tetap akan berpikir apakah ini momentum yang tepat kecuali calon emiten itu sudah memiliki anchor investor,” ujarnya.

Iwanho mengungkapkan masih memiliki enam calon emiten dalam pipeline penawaran umum perdana saham. Tiga perusahaan di antaranya diharapkan akan dapat berjalan pada semester II/2020.

Dia menyebut tiga calon emiten itu tersebar di sektor manufaktur, properti, dan sumber daya alam. Pembicaraan dengan beberapa anchor investor sudah dilakukan untuk ketiga perusahaan.

Sementara itu, Direktur CSA Institute Aria Santoso mengatakan potongan biaya pencatatan menjadi niatan baik dari SRO yang menggembirakan. Akan tetapi, pertimbangan keputusan calon emiten untuk IPO bukan hanya dari faktor biaya.

“Kemungkinan memang bisa menjadi pendorong walaupun bukan sebagai faktor utama. Kemungkinan akan ada yang memilih penundaan dari sekitar 60 calon emiten yang siap melantai,” paparnya.

BEI melaporkan ada 20 perusahaan dalam pipeline IPO hingga 15 Juni 2020. Daftar itu berisikan calon emiten dari sejumlah sektor.

Bursa menyebut tujuh perusahaan berasal dari sektor trade, service, and investment. Selanjutnya, lima perusahaan dari sektor properti real estate dan building construction. 

Adapun, sisa delapan lainnya merupakan perusahaan yang bergerak dari sektor beragam yakni pertanian, industri dasar dan kimia, keuangan, serta industri barang konsumer.

Berdasarkan data Bloomberg, jumlah perusahaan IPO di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara pada Januari 2020—April 2020. Realisasi 26 emiten baru saat itu melampaui Singapura dengan enam perusahaan dan Malaysia dengan delapan perusahaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top