Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Keluar dari Asia, Masuk ke Amerika Latin

Merebaknya pandemi Covid-19 sejak kuartal I/2020 telah mengubah aliran modal di dunia. Akan tetapi, tak semua investor benar-benar keluar dari pasar negara berkembang (emerging market) dan kembali mengakumulasikan aset aman di negara maju.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  15:49 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Merebaknya pandemi Covid-19 sejak kuartal I/2020 telah mengubah aliran modal di seluruh dunia.

Akan tetapi, tidak semua investor benar-benar keluar dari pasar negara berkembang (emerging market) dan kembali mengakumulasikan aset aman di negara maju.

Justru ketika investor keluar dari pasar emerging market negara Asia, mereka tampak mencari negara berkembang lain yang menarik seperti ke Amerika Latin.

Berdasarkan data Bloomberg, aliran modal investor di emerging market dapat dilihat dari transaksi produk-produk reksa dana ETF (exchange-traded fund) yang tercatat di bursa AS.

Produk ETF merupakan jenis reksa dana yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Selama dua pekan terakhir, produk ETF yang berinvestasi ke obligasi dan saham negara-negara Asia mengalami jual bersih (net sell) senilai US$1,4 miliar.

Aliran modal keluar dari Benua Kuning ini sudah terjadi sejak Februari 2020.

Di sisi lain, produk ETF yang berinvestasi ke obligasi dan saham negara-negara berkembang di Amerika Latin justru menarik dana sekitar US$60 juta pada periode yang sama. Padahal, kawasan ini baru saja menjadi pusat penyebaran Covid-19 yang baru.

Berpindahnya modal dari Asia ke Amerika Latin yang sama-sama emerging market terjadi bukan tanpa alasan.

Adapun, pasar Asia dinilai masih berisiko dari memburuknya hubungan dagang antara China dan AS.  Para investor telah memasang harga (priced in) untuk hubungan dagang dua ekonomi terbesar di dunia ini.

Sementara itu, walaupun di negara Amerika Latin muncul kasus Covid-19 tetapi kawasan ini dinilai tertolong oleh membaiknya harga komoditas seperti minyak dan tembaga selaku produk ekspor utama.

Morgan Harting, Manajer Investasi Multi-Aset di AllianceBernstein New York, menyebutkan bahwa kepemimpinan di Asia memang lebih sukses menangkal Covid-19 ketimbang di Amerika Latin.

“Tetapi, aktivitas [di Amerika Latin] mulai membaik. Saat ini investor lebih fokus pada data pemulihan aktivitas,” katanya seperti dikutip Bloomberg, Kamis (4/6/2020).

Mark Mobius, Co-Founder Mobius Capital, menambahkan bahwa dampak Covid-19 di Amerika Latin tidak akan sebesar di Asia karena kawasan ini memiliki populasi anak muda yang lebih banyak. Seperti diketahui, Covid-19 lebih rentan menyebabkan kematian kepada orang yang berusia lanjut.

 Dengan demikian, masuknya investasi asing akan lebih menguntungkan kawasan ini seiring dengan tren naik (uptrend) untuk aset emerging market.

“Investor sebagian besar sudah priced-in untuk tensi dagang AS-China. Ditambah lagi, ada kebijakan shutdown yang menyebabkan pengangguran dan meningkatnya kejahatan membawa risiko besar untuk saham-saham di China. Kenaikannya tidak akan sebesar saham di negara emerging market lain,” ujar Mobius.

Aset saham di Asia dinilai mulai menarik karena mulai outperform setelah sell-off besar-besaran akibat Covid-19 pada awal tahun. Saat ini, saham-saham di kawasan Asia masih melemah sekitar 6 persen (year-to-date/ytd) dibandingkan saham di Amerika Latin yang masih anjlok 30 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham investor etf

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top