Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Emiten Batu Bara Kapitalisasi Terjumbo Pangkas Target Pendapatan

Emiten berkode saham BYAN itu memangkas target pendapatan tahun ini menjadi hanya sebesar US$1,2 miliar dari target yang telah ditetapkan sebelumnya di kisaran US$1,4 miliar hingga US$1,6 miliar.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 22 Mei 2020  |  18:30 WIB
Aktivitas di pelabuhan PT Bayan Resources Tbk. Istimewa
Aktivitas di pelabuhan PT Bayan Resources Tbk. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten tambang batu bara dengan kapitalisasi pasar terbesar, PT Bayan Resources Tbk. merevisi panduan keuangan dan operasional perseroan yang sudah ditetapkan pada awal tahun ini sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Mengutip laporan perseroan, emiten berkode saham BYAN itu memangkas target pendapatan tahun ini menjadi hanya sebesar US$1,2 miliar dari target yang telah ditetapkan sebelumnya di kisaran US$1,4 miliar hingga US$1,6 miliar.

EBITDA yang diproyeksi berada di kisaran US$320 juta hingga US$350 juta pada tahun ini pun dipangkas menjadi di kisaran US$150 juta hingga US$180 juta.

Manajemen Bayan Resources mengatakan bahwa revisi panduan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kinerja kuartal I/2020 perseroan dan kondisi pasar saat ini.

“Hal itu pun sejalan dengan Tambang Tabang yang menghentikan operasional penambangannya mulai 25 Maret hingga 14 Mei 2020 karena masalah keamanan terkait Covid-19,” tulis Manajemen Bayan Resources dalam laporannya, dikutip Jumat (22/5/2020).

Revisi target pendapatan penjualan tersebut dilakukan seiring dengan revisi target penjualan batu bara menjadi hanya 30-31 juta ton dari sebelumnya sekitar 35-38 juta ton. Selain itu, target produksi dipangkas menjadi 26 juta ton daripada sebelumnya sekitar 31-33 juta ton.

Selain mempertimbangkan tambang Tabang yang berhenti beroperasi, penurunan panduan volume penjualan dan produksi batu bara BYAN itu juga disebabkan jumlah pasokan yang berlebih di pasar dan tingkat persediaan batu bara perseroan yang tinggi, sisa dari tahun lalu.

Adapun, Average Selling Price (ASP) batu bara BYAN diperkirakan turun menjadi di kisaran US$39 hingga US$40 per ton berdasarkan harga referensi patokan newcastle yang rata-ratanya juga turun menjadi US$57,8 per ton pada 2020.

Padahal, cash cost production dinaikkan menjadi US$34-US$35 per ton dari sebelumnya di kisaran US$30 hingga US$32 per ton dengan mempertimbangkan volume penjualan yang rendah, biaya tambahan untuk posisi standby tambang, dan posisi bahan bakar tetap.

 
Tabel Panduan Produksi Bayan Resources

Sumber: Bayan Resources.

 

Sementara itu, per April 2020 perseroan milik konglomerat Dato Low Tuck Kwong itu telah mengantongi kontrak penjualan 29,5 juta ton dengan rata-rata kalori 4.625 kcal per kilogram.

Dari capaian tersebut sebanyak 58 persen kontrak menggunakan harga fixed untuk rata kalor 4.613 kcal per kilogram di kisaran US$41,8 per ton. Namun, sisanya sebesar 48 persen menggunakan harga floating atau pasar spot.

“Kelebihan pasokan di pasar diperkirakan terus berlanjut hingga akhir 2020.

Saat ini, perseroan pun sangat sulit untuk memperbanyak profit tambahan di penjualan pasar spot,” jelas Manajemen.

Di sisi lain, perseroan juga memangkas alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$75-US$90 juta daripada alokasi sebelumnya US$90-US$110 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara bayan resources Kinerja Emiten
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top