Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gara-Gara Harga Batu Bara, Moody’s Revisi Prospek Indika Energy (INDY)

Moody’s mengumumkan merevisi outlook Indika Energy dari stabil menjadi negatif. Kendati demikian, corporate family rating (CFR) dipertahankan di level Ba3.
Aktivitas kontrak pertambangan PT Petrosea Tbk. Anak usaha Indika Energy ini memiliki pengalaman 48 tahun di bidang kontraktor pertambangan./petrosea.com
Aktivitas kontrak pertambangan PT Petrosea Tbk. Anak usaha Indika Energy ini memiliki pengalaman 48 tahun di bidang kontraktor pertambangan./petrosea.com

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investors Service, merevisi outlook atau prospek PT Indika Energy Tbk. akibat tren pelemahan harga batu bara termal yang tidak luput dari imbas penyebaran Covid-19.

Dalam siaran persnya Rabu (20/5/2020), Moody’s mengumumkan merevisi outlook Indika Energy dari stabil menjadi negatif. Kendati demikian, corporate family rating (CFR) dipertahankan di level Ba3.

Maisam Hasnain, Assistant Vice President and Analyst Moody’s menjelaskan bahwa perubahan outlook emiten berkode saham INDY itu menjadi negatif merefleksikan ekspektasi bahwa metrik kredit perseroan akan memburuk dalam 12 bulan ke depan.

“Di tengah lingkungan operasi yang menantang termasuk harga batu bara termal yang melemah,” ujarnya.

Sementara itu, Maisam mengatakan afirmasi peringkat Ba3 untuk INDY mencerminkan bisnis yang terdiversifikasi. Moody’s menilai emiten energi itu memiliki saldo kas yang besar, utang jangka pendek terkelola, serta kebijakan keuangan yang prudent.

Tim Analis Moody’s menuliskan bahwa INDY terpapar penurunan harga batu bara termal yang lemah. Kondisi itu diperkirakan akan berlangsung dalam 12 bulan ke depan karena krisis Covid-19 menggerus permintaan komoditas tersebut.

Berdasarkan asumsi harga jangka menengah batu bara termal Newcastle US$60—US$65 per ton, Moody’s memprediksi tingkat adjusted leverage INDY akan naik menjadi 5,2 kali hingga 6,5 kali selama 12 bulan hingga 18 bulan ke depan. Posisi itu naik dari 3,5 kali per 31 Desember 2019.

Moody’s memprediksi kontraksi kinerja keuangan terutama akan bersumber dari penurunan laba bersih entitas anak perseroan, PT Kideco Jaya Agung. Lini itu menjadi kontributor utama keuangan perseroan dengan kontribusi 52 persen terhadap pendapatan 2019.

Tekanan kinerja keuangan juga diperkirakan berasal dari terkontraksinya pendapatan dari PT Petrosea Tbk. dan PT Tripatra Multi Energi. Kontrak yang dikantongi kedua entitas anak itu menurut Moody’s telah mengalami penurunan baru-baru ini.

Kendati demikian, Moody’s menggarisbawahi INDY memiliki likuditas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kas dalam 12 bulan hingga 18 bulan mendatang. Lembaga pemeringkat itu mengharapkan perseroan terus proaktif melakukan pembiayaan kembali alias refinancing utang jatuh tempo senilai US$1,1 milar pada 2022 dan 2024.

“Saldo kas konsolidasi sekitar US$569 juta per 31 Desember 2019 memungkinkan fleksibilitas untuk mengelola volatilitas dalam operasinya di tengah rendahnya harga batu bara,” tulis Moody’s.

Moody’s mengingat penurunan harga batu bara termal dapat membuat INDY tidak memenuhi covenants pinjaman bank yang mensyaratkan gross debt to EBITDA tidak melewati 3,75 kali di kuartal II/2020. Oleh karena itu, perseroan diharapkan mengatasi risiko ini dengan meminta keringanan atau menegosiasikan ulang tingkat covenants.

Moody’s menyatakan tidak mungkin INDY mengalami kenaikan peringkat dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan. Hal itu sejalan dengan revisi outlook perseroan.

“Prospek dapat kembali stabil jika INDY meningkatkan metrik kredit secara berkelanjutan dan menjaga likuiditas yang cukup untuk menutupi kebutuhan uang tunai selama 12 bulan hingga 18 bulan ke depan,” tulis Moody’s.

Adapun, indikator spesifik yang akan dipertimbangkan oleh Moody’s untuk merubah outlook INDY yakni penyesuaian tingkat debt to EBITDA di bawah 4,0 kali dan EBIT to interest di atas 2,0 kali untuk periode ke depan.

Sebaliknya, peringkat INDY dapat diturunkan apabila metrik kredit melemah, Kideco gagal memperpanjang penambangan kontrak karya, dan likuiditas melemah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper