Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Buntut Depresiasi Rupiah, Mulia Industrindo (MLIA) Rugi Rp22,93 Miliar

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2020 di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/5/2020), perseroan membukukan rugi Rp22,93 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, emiten berkode saham MLIA tersebut mampu memperoleh laba bersih sebesar Rp55,32 miliar.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 19 Mei 2020  |  14:28 WIB
Karyawan melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (16/4/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten kaca PT Mulia Industrindo Tbk. (MLIA) membukukan kerugian akibat dari depresiasi rupiah pada kuartal pertama tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2020 di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/5/2020), perseroan membukukan rugi Rp22,93 miliar. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, emiten berkode saham MLIA tersebut mampu memperoleh laba bersih sebesar Rp55,32 miliar.

Walhasil, rugi bersih per saham yang akan dibagikan perseroan pada kuartal pertama tahun ini adalah Rp29,8, berbanding terbalik dari posisi laba per saham periode yang sama tahun lalu sebesar Rp43,49.

Kerugian yang harus ditelan perseroan pada triwulan pertama tahun ini disumbang oleh rugi kurs sebesar Rp54,88 miliar, berkebalikan dari posisi untung kurs sebesar Rp2,82 miliar tahun lalu.

Adapun, pos penjualan bersih perseroan juga menurun tipis 0,4 persen menjadi Rp1 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Di sisi lain, produsen kaca lembaran tersebut tak bisa mengelak dari kenaikan beban pokok penjualan sebesar 4,57 persen, diikuti dengan beban penjualan senilai 2,82 persen serta beban umum dan administrasi sebanyak 12,26 persen.

Penjualan kepada pihak ketiga lokal masih mendominasi omzet perseroan dengan persentase 77,72 persen, dibarengi dengan penjualan kepada pihak ketiga ekspor dan pihak berelasi ekspor masing-masing 21,64 persen dan 0,65 persen dari total pendapatan pada tiga bulan pertama tahun ini.

Saat ini, perseroan memiliki total aset senilai Rp5.93 triliun, tumbuh tipis 2,94 persen dibanding periode akhir tahun 2019.

Dikutip dari keterangan kondisi usaha, perseroan mengalami defisit masing-masing Rp1,28 triliun pada 31 Maret 2020 dikarenakan kerugian berulang yang dialami sebelum tahun 2009.

“Kerugian tersebut terutama disebabkan kerugian kurs mata uang asing dan beban bunga,” tulis manajemen dalam keterangannya.

Tingginya nilai tukar mata uang asing yang terjadi sejak tahun 1997, telah menyebabkan pinjaman perseroan meningkat secara substantial yang akhirnya membuat perseroan kesulitan keuangan untuk menyelesaikan kewajibannya. Karena itu, sejak tahun 2010, peseroan telah merestrukturasi utangnya.

“Untuk menghasilkan arus kas yang memadai dari aktivitas operasi untuk membayar pokok dan bunga pinjaman yang telah direstrukturisasi, manajemen grup dan entitas anak telah mengambil langkah untuk meningkatkan volume dan harga penjualan terutama untuk pasar ekspor dan domestik,” jelas manajemen.

Selain itu, perseroan juga melakukan perluasan jaringan distribusi, melakukan customer reprofiling dan product reprofiling dengan memproduksi produk-produk yang dapat diterima oleh pasar domestik maupun pasar ekspor dengan margin yang lebih baik serta berusaha dengan penghematan biaya, khususnya biaya energi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

keramik Kinerja Emiten mulia industrindo
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top