Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bos Djarum: Hampir 99 Persen Kekayaan Taipan Berasal dari Saham

Hampir 99 persen orang kaya di dunia menimbun kekayaan dalam bentuk saham
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 15 Mei 2020  |  19:42 WIB
Bos Djarum: Hampir 99 Persen Kekayaan Taipan Berasal dari Saham
Michael Hartono - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Taipan memang punya cara tersendiri dalam mengelola hartanya. Jika ada anggapan para konglomerat menaruh uangnya di bank dalam beragam produk simpanan, pandangan itu keliru. 

Managing Director Djarum Group Honky Harjo mengungkapkan kalangan konglomerat tidak menyimpan kekayaan dalam bentuk deposito.  Pria yang juga adalah investor pasar modal tersebut mengatakan bahwa hampir 99 persen orang kaya di dunia menimbun kekayaan dalam bentuk saham.

"Orang kaya itu nggak ada yang kaya dari taruh uang di deposito. Orang kaya di dunia termasuk Indonesia itu hampir 99 persen [kekayaannya] dari saham," tegasnya dalam webinar bersama Trimegah Asset Management , Jumat (15/5/2020).

Honky menyatakan saham yang dimiliki taipan berasal dari saham perusahaan publik atau perusahaan yang dikelolanya sendiri. 

Dia menyebut, secara umum konglomerat memiliki aset utama dan aset minor. Aset utama terdiri dari empat yakni; saham, surat utang, properti dan deposito. Sementara itu, aset minor lebih mengarah kepada keinginan atau hobi seperti emas, jam, dan lukisan.

"Deposito selalu buat likuiditas, dan pasti rugi karena kalah sama inflasi. Properti di Indonesia buruk. Biarpun, Djarum punya banyak properti tapi kita bukan pemain properti," tuturnya.

Investasi Jangka Panjang

Pria yang juga menjabat sebagai Marketing Director PT Djarum tersebut menyatakan ia melihat pasar saham Indonesia masih sangat atraktif dalam jangka panjang.

Baginya, investasi jangka panjang adalah pilihan terbaik mengingat secara demografi Indonesia akan masuk dalam zaman keemasan pada tahun 2030 mendatang.

"Secara demografi, aging society China, Korea dan Jepang pada tahun 2030 ke atas 1,7 miliar orang. Mereka harus pindahin bisnisnya ke Asia Tenggara, di Indonesia itu kita pegang bisnisnya 50 persen Jadi, long term akan baik," jelasnya. 

Dia juga melihat industri konsumer akan berjaya selamanya di Tanah Air. Maka dari itu, Djarum Group memiliki bisnis berbasis consumer termasuk di dalamnya produksi rokok, perbankan, elektronik, dan lain sebagainya.

Menurut pemberitaan Forbes yang dirilis April 2020 ini, Bos Grup Djarum Budi Hartono dan Michael, menempati urutan teratas daftar orang terkaya dari Indonesia tahun 2020 dengan nilai kekayaan US$13,6 miliar ;  kemudian disusul oleh kakaknya, Michael Hartono dengan nilai kekayaan US$13 miliar.

Keduanya diposisikan sebagai orang terkaya pertama dan kedua di Indonesia selama 12 tahun berturut-turut.

Bila ditotal, kekayaan Budi dan Michael Hartono mencapai US$26,6 miliar atau sekitar Rp425,6 triliun. Di pasar modal, Grup Djarum dikenal dengan dua emiten afiliasinya PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR).

Selain bisnis rokok, perbankan dan menara, Grup Djarum juga memiliki merek elektronika Polytron, rumah studio produksi Visinema Pictures, perkebunan HPI Agro, perdagangan elektronik Blibli.com, agen perjalanan daring Tiket.com.

Tak sampai disitu, Djarum Grup juga memiliki media komunikasi dengan nama Mola TV dan Super Soccer TV, makanan dan minuman Savoria, dengan merek Yuzu, dan kopi Sumber Kopi Prima, dengan merek Delizio Caffino

Hartono juga memiliki sejumlah real estate utama di Jakarta dan kota lainnya, serta kepemilikan saham di startup game Razer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham djarum
Editor : Rivki Maulana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top