Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rupiah Berpeluang Menguat Awal Pekan Depan

Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 15 poin atau 0,1 persen ke level Rp15.400 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (24/4/2020).
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 25 April 2020  |  20:14 WIB
Karyawati bank menata uang dollar dan rupiah di kantor cabang PT Bank Mandiri Tbk. di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Karyawati bank menata uang dollar dan rupiah di kantor cabang PT Bank Mandiri Tbk. di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati masih begejolak, mata uang rupiah berpeluang mengalami penguatan pada awal pekan depan dengan proyeksi rentang harga Rp15.360 – Rp15.510 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 15 poin atau 0,1 persen ke level Rp15.400 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat (24/4/2020).

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,281 poin atau 0,28 persen ke level 100,714 pada pukul 14.53 WIB.

Adapun, pada penutupan perdagangan akhir pekan indeks dolar AS melesu 0,05 persen ke posisi 100,38. Namun, sepanjang tahun berjalan harga masih menguat 4,14 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menyampaikan pada perdagangan Senin (27/4/2020), rupiah masih akan bergejolak. Ada kemungkinan rupiah dibuka melemah, tetapi dapat ditutup menguat.

“Rentang harga Rp15.360 – Rp15.510 per dolar AS,” paparnya, Jumat (24/4/2020).

Ada sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Dari internal, pemerintah membuat kebijakan yang sangat berani, yakni keputusan agar masyarakat tidak mudik pada saat lebaran Idul Fitri.

Bahkan apabila melanggar akan mendapatkan denda yang begitu besar dan ancaman Pidana 1 tahun. Ini membawa angin segar tersendiri bagi mata uang garuda, karena masyarakat mengikuti kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

“Mudik saat lebaran merupakan sesuatu yang sakral bagi umat islam di Indonesia tapi karena virus corona perlu adanya pembatasan, sehingga pasar kembali bergairah. Diharapkan arus modal asing kembali masuk pasar valas dan obligasi,” imbuhnya.

Di samping itu, Bank Indonesia sudah bisa memprediksi tentang mata uangnya yang akan kembali menguat karena kebijakan bauran yang diterapkan bersama-sama dengan pemerintah membawa perubahan yang drastis terhadap kepercayaan pasar.

Apalagi saat ini masih berlangung penjualan SUN di pasar Internasional yaitu bursa Singapora dan Bursa Frankfurt, Jermarn.

Dari sisi eskternal, adanya laporan Financial Times mengutip dokumen yang secara tidak sengaja diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengatakan bahwa remdesivir obat Gilead Sciences tidak memperbaiki kondisi pasien virus corona.

Keraguan telah muncul mengenai kemanjuran obat anti virus Gilead dalam mengobati Covid-19, setelah Financial Times melaporkan semalam bahwa ia telah gagal dalam uji klinis acak pertama.

Gilead membantah laporan itu, mengatakan penelitian itu "dihentikan lebih awal karena rendahnya pendaftaran," dan dengan demikian "hasil studi tidak dapat disimpulkan."

Namun, hal ini telah mengakibatkan dolar dicari sebagai aset yang aman karena obat itu sebelumnya dianggap sebagai salah satu prospek terbaik untuk mengobati virus.

Selain itu, Kongres AS mengeluarkan US$484 miliar tagihan bantuan Covid-19, atau tagihan keempatnya untuk mendukung ekonomi AS.

Lebih banyak langkah kemungkinan akan datang karena dana yang didistribusikan dengan cepat habis, dan Departemen Tenaga Kerja AS juga mengatakan dalam semalam bahwa tambahan 4,427 juta orang menganggur pekan lalu, dengan total rekor 26,5 juta pengangguran selama lima minggu terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah kurs dolar as
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top