Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Analisis Harga Minyak Minus yang Lebih Murah dari Harga Mie Instan, Kok Bisa?

Berdasarkan data Bloomberg, pada Selasa (21/4/2020) pukul 14.24 WIB harga minyak jenis WTI untuk kontrak Mei 2020 di bursa Nymex diperdagangkan di level -US$4,5 per barel.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 21 April 2020  |  15:39 WIB
Penampakan proyek pengembangan Lapangan gas Buntal/5 oleh Medco E&P Natuna Ltd. Istimewa / Dok. SKK Migas
Penampakan proyek pengembangan Lapangan gas Buntal/5 oleh Medco E&P Natuna Ltd. Istimewa / Dok. SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak berjangka kembali anjlok dan bergerak di kisaran area harga negatif pada perdagangan Selasa (21/4/2020). Bahkan, harga satu barel minyak saat ini lebih murah dibandingkan dengan harga satu dus mie instan.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Selasa (21/4/2020) pukul 14.24 WIB harga minyak jenis WTI untuk kontrak Mei 2020 di bursa Nymex diperdagangkan di level -US$4,5 per barel.

Harga itu relatif lebih baik dibandingkan dengan harga pada penutupan perdagangan Senin (20/4/2020), yang untuk pertama kalinya dalam sejarah minyak, harga parkir di area negatif yaitu di level -US$37,63 per barel.

Adapun, harga satu barel minyak mentah itu jauh lebih murah dibandingkan dengan harga satu dus mie instan goreng merek Indomie. Rata-rata harga pasaran satu dus mie instan saat ini berada di kisaran Rp119.000 per dus atau setara dengan US$7,9 per dus (asumsi kurs Rp15.000 per dolar AS).

Bahkan, harga satu dus mie tersebut saat ini tengah didiskon di salah satu e-commerce dengan harga Rp94.900 per dus atau setara dengan US$6,32 per dus (asumsi kurs Rp15.000 per dolar AS.

Untuk diketahui, satu barel minyak setara dengan 159 liter minyak.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal menjelaskan bahwa penurunan harga minyak hingga menyentuh area negatif hanya terjadi di kontrak minyak penyerahan Mei 2020. Sementara itu, harga minyak kontrak Juni 2020 tampak masih bertahan di atas kisaran harga US$20 per barel.

Penurunan itu disebabkan oleh settlement kontrak berjangka Mei 2020 yang berakhir pada hari ini, Selasa (21/4/2020). Adapun empat hari sebelum berakhirnya masa kontrak, perdagangan dilakukan langsung dengan penyerahan fisik minyak dan tidak lagi dilakukan pertukaran dengan kas tunai.

Saat ini, para trader cenderung menggeser posisinya ke kontrak Juni 2020 karena mereka mencoba untuk menghindari pengiriman atau penyerahan barang seiring dengan kurangnya ruang untuk menyimpan minyak.

Akibatnya, banyak trader dan spekulan yang terpaksa mengobral minyak dengan harga yang terlalu murah agar kilang-kilang mereka dapat kembali kosong dan tidak menumpuk, dengan memindahkan aset-aset tersebut ke trader lainnya.

“Jadi lebih baik dijual saja dengan harga yang murah, dengan harga yang cuma-cuma bahkan hingga sampai minus, untuk siapapun yang ingin beli minyak kontrak penyerahan Mei 2020 itu,” ujar Faisyal kepada Bisnis.com, Selasa (21/4/2020).

Untuk diketahui, di AS saja, Menurut data Energy Information Administration (EIA), stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma - pusat penyimpanan utama AS - telah melonjak 48 persen menjadi hampir 55 juta barel sejak akhir Februari. Adapun, situs itu memiliki kapasitas penyimpanan kerja sebesar 76 juta per 30 September.

Pada pekan lalu, cadangan minyak mentah AS berada di level 19.248 juta barel, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 11.676 juta barel. Akibatnya, pasar pun khawatir kilang penyimpanan AS tidak akan cukup lagi untuk menampung banjirnya cadangan minyak itu.

Banjirnya cadangan itu juga menjadi tanda bahwa lemahnya permintaan minyak di tengah pandemi Covid-19. OPEC memperkirakan permintaan minyak mentah global akan turun ke level terendah dalam tiga dekade terakhir.

Bahkan, Badan Energi Internasional memperkirakan kebutuhan minyak akan merosot dan berpotensi menjadikan 2020 sebagai tahun terburuk dalam sejarah pasar minyak.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan momentum penurunan harga minyak hingga menembus negatif merupakan kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menjadi sejarah baru bagi pasar minyak.

Dia menjelaskan penurunan harga minyak terjadi untuk minyak WTI kontrak Mei 2020 yang akan berakhir pada hari ini, Selasa (21/4/2020). Harga turun karena kekurangan tempat penyimpanan dan penyerahan fisik minyak.

Sementara itu, harga minyak untuk kontrak Juni 2020 masih tampak dapat bertahan di kisaran atas US$20 per barel.

Namun, bukan tidak mungkin harga minyak untuk kontrak Juni 2020 akan bernasib sama dengan harga minyak kontrak Mei 2020 yang anjlok sangat dalam seiring dengan berlanjutnya pelemahan permintaan dan kurangnya tempat penyimpanan minyak.

“Krisis ini masih belum berakhir. Harga ini belum mencerminkan efek terhadap resesi global, apalagi kalau sudah faktual resesi globalnya, pasti ancamannya memburuk,” ujar Wahyu.

Dia menjelaskan bahwa jikalau penyebaran Covid-19 berakhir, efek pandemi terhadap ekonomi masih akan buruk. Misalnya, ancaman resesi global, dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan kondisi ekonomi kembali normal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak komoditas minyak
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top