Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Energi Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Anjlok 3,25 Persen

Bursa Eropa terjerembap ke zona merah dan anjlok lebih dari 3 persen pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2020), di tengah tumbuhnya kekhawatiran investor soal dampak pandemi virus corona (Covid-19) terhadap ekonomi global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 16 April 2020  |  05:15 WIB
Stoxx. -  Alex Kraus / Bloomberg
Stoxx. - Alex Kraus / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Eropa terjerembap ke zona merah dan anjlok lebih dari 3 persen pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2020), di tengah tumbuhnya kekhawatiran investor soal dampak pandemi virus corona (Covid-19) terhadap ekonomi global.

Pergerakan indeks Stoxx Europe 600, yang mewakili saham perusahaan-perusahaan di 17 negara kawasan Eropa, ditutup di level 323,06 dengan penurunan tajam 3,25 persen atau 10,85 poin dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (14/4/2020), indeks saham acuan kawasan Eropa tersebut mampu menyentuh level 333,91 dengan kenaikan 0,64 persen atau 2,11 poin.

Di antara indeks saham utama penekan Stoxx pada Rabu adalah indeks FTSE 100 Inggris (-3,34 persen), indeks CAC 40 Prancis (-3,76 persen), indeks DAX Jerman (-3,90 persen), dan indeks IBEX 35 Spanyol (-3,79 persen).

Sementara itu, saham Tullow Oil PLC. yang anjlok 25,01 persen membukukan penurunan terbesar pada indeks Stoxx, disusul saham Cineworld Group PLC (-21,16 persen) dan Hammerson PLC (-18,13 persen).

Penguatan baru-baru ini untuk saham-saham Eropa telah didorong oleh optimisme soal penanganan pandemi corona oleh pemerintah negara-negara di dunia.

Namun sentimen ini seketika dibayangi oleh peringatan yang disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (14/4/2020) bahwa tahun ini akan menjadi tahun dengan pertumbuhan global terburuk sejak periode “Great Depression”.

Perusahaan-perusahaan energi memimpin penurunan saham pada Rabu (15/4) karena harga minyak mentah turun tajam. International Energy Agency (IEA) memprediksi penurunan permintaan minyak akan mencapai rekor pada bulan April akibat terdampak pandemi Covid-19.

Saham Adidas juga turun setelah produsen pakaian olahraga asal Jerman ini mengatakan akan menerima pinjaman sebesar €3 miliar (US$3,3 miliar) yang didukung pemerintah dan menangguhkan pembayaran dividen, seperti dikutip dari Market Watch.

Presiden dan CEO Gibbs Wealth Management LLC, Erin Gibbs, mengatakan musim laporan keuangan benar-benar akan menjadi panduan mengenai keadaan ekonomi saat ini.

"Yang benar-benar akan kita cari adalah, apakah perusahaan dapat memberikan kejelasan mengenai kapan mereka akan mencetak profitabilitas, atau, apakah mereka berbicara tentang lebih banyak PHK?” ungkapnya, seperti dikutip dari Bloomberg.

Sentimen tersebut menambah tekanan pada pasar setelah serangkaian data ekonomi yang mengecewakan di Amerika Serikat.

Data Departemen Perdagangan AS yang dirilis pada Rabu (15/4) menunjukkan nilai penjualan ritel melorot 8,7 persen pada Maret 2020 dari bulan sebelumnya, rekor penurunan terbesar sejak tahun 1992.

Secara y-o-y, penjualan ritel pada Maret 2020 turun 6,2 persen dari Maret 2019. Capaian ini berbanding terbalik dengan kenaikan sebesar 4,6 persen pada Februari 2020 secara y-o-y, seperti dilansir dari Bloomberg.

Sebuah laporan terpisah pada Rabu (15/4) menunjukkan bahwa output pabrik di AS turun pada Maret, penurunan terbesar sejak tahun 1946.

Data lain menunjukkan manufaktur di Negara Bagian New York menyusut pada bulan April dengan laju tercepat sejak tahun 2001. Fakta ini menyoroti dampak parah dari penghentian aktivitas perekonomian yang dirancang untuk membendung penyebaran virus corona.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa eropa bursa global indeks stoxx 600
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top