Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laju Korban Jiwa Akibat COVID-19 Melandai, Bursa Asia Menguat

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang terpantau menguat 1,62 persen atau 8,91 poin ke level 558,47 pada pukul 13.24 WIB. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang menguat masing-masing 3,86 persen dan 4,24 persen.
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China./ Qilai Shen - Bloomberg
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China./ Qilai Shen - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat sejalan dengan kontrak berjangka di bursa AS pada perdagangan Senin (6/4/2020) setelah sejumlah negara yang menjadi pusat penyebaran virus corona mencatat penurunan jumlah korban harian.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang terpantau menguat 1,62 persen atau 8,91 poin ke level 558,47 pada pukul 13.24 WIB. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang menguat masing-masing 3,86 persen dan 4,24 persen.

Indeks Hang Seng menguat 2,32 persen dan indeks Kospi Korea Selatan menguat 3,85 persen. Sementara itu, bursa saham China ditutup karena libur.

Kontrak pada Indeks S&P 500 dan Euro Stoxx 50 naik masing-masing 4 persen. Di sisi lain, harga minyak mentah melemah karena ketidakpastian pada rencana pertemuan negara-negara produsen.

Arab Saudi, Rusia, dan produsen minyak utama lainnya tengah menegosiasikan kesepakatan untuk membendung kejatuhan harga komoditas tersebut.

Dalam perkembangan terakhir mengenai penyebaran virus corona (COVID-19), jumlah kematian di negara bagian New York turun pertama kalinya, meskipun Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa AS semakin mendekati fase "mengejutkan" dari penyebaran pandemi ini.

Sementara itu, Italia mencatat jumlah kematian harian paling rendah dalam lebih dari dua pekan terakhir, sedangkan Prancis melaporkan jumlah terendah dalam lima hari dan Spanyol turun selama tiga hari berturut-turut.

"Ada titik terang yang terlihat, namun jalan ini masih panjang," tulis Erik Nielsen, kepala ekonom UniCredit SpA, seperti dikutip Bloomberg.

Bursa saham melemah pekan lalu, setelah data non-farm payroll AS mengisyaratkan sejauh mana tekanan pandemi COVID-19 pada negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini.

"Kami masih optimis bahwa pemerintah akan dapat mengendalikan virus ini dan membuka kembali perekonomian pada akhir April atau awal Mei," ungkap Lindsey Piegza, kepala ekonom di Stifel Nicolaus & Co.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper