Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hati-Hati, Surat Utang Korporasi Dihantui Penurunan Kualitas Kredit

Direktur Rating PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Vonny Widjaja mengatakan cukup banyak sektor yang berpotensi mengalami pelemahan akibat imbas penyebaran COVID-19 serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  05:30 WIB
Pesawat udara berada di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (8/3/2019). - ANTARA/Fikri Yusuf
Pesawat udara berada di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (8/3/2019). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com,JAKARTA – Penyebaran COVID-19 dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat risiko penurunan kualitas kredit penerbit surat utang korporasi di sejumlah sektor meningkat.

Direktur Rating PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Vonny Widjaja mengatakan cukup banyak sektor yang berpotensi mengalami pelemahan akibat imbas penyebaran COVID-19 serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Namun, dampak yang ditimbulkan menurutnya berbeda mulai dari kategori rendah, sedang, hingga tinggi.

Vonny menyebut sektor yang terpengaruh langsung oleh COVID-19 yakni pariwisata seperti bisnis agen perjalanan, hotel dan restoran, serta usaha terkait transportasi seperti maskapai penerbangan dan bandar udara. Selain itu, sektor ritel dan restoran khususnya yang memiliki gerai di mall akan terdampak.

Selain imbas penyebaran COVID-19, dia menyebut Pefindo juga sedang me-review beberapa sektor yang memiliki paparan tinggi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Hal itu khususnya bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan bahan baku impor yang tinggi dan jumlah utang dalam mata uang asing yang signifikan.

Kendati demikian, Vonny menyatakan pelemahan terhadap sektor atau industri tidak serta merta menurunkan peringkat kredit perseroan beserta surat utang yang dimiliki. Pasalnya, penurunan atau downgrade akan bergantung kepada fundamental tiap perusahaan.

“Bisa jadi kalau penurunan peringkat perusahaan akan berbeda-beda walaupun di sektor yang sama. Secara bisnis atau secara umum memang ada pengaruhnya, namun tetap harus dianalisis per masing-masing perusahaan untuk menentukan dampaknya terhadap peringkat perusahaan tersebut,” jelasnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan Pefindo tengah melakukan peninjauan ulang lebih intensif terkait dampak COVID-19 dan nilai tukar dengan klien. Pefindo juga akan meninjau risiko likuiditas perusahaan apabila ada surat utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

“Peninjauan itu dilakukan sebelum menentukan hasil pemeringkatan terkini,” imbuhnya.

Eddy Handali, Direktur Pemeringkatan PT Fitch Ratings Indonesia mengatakan terdapat sektor yang berada dalam tekanan di tengah tantangan penyebaran COVID-19. Secara umum, beberapa sektor yang mengalami dampak signifikan yakni maskapai penerbangan, minyak dan gas, batubara, serta pariwisata.

Selain itu, Eddy menyebut sektor yang terdampak lebih moderat yakni otomotif, departement store, pelayaran, dan minyak sawit.

“Apabila berkepanjangan, manufaktur dan properti juga akan terdampak. Bank tentunya berada dalam outlook negatif juga,” tuturnya.

Di tengah kondisi saat ini, dia mengatakan Fitch menekankan kepada kondisi likuiditas, kecepatan pemulihan dan kemampuan perusahaan untuk menutup pendapatan Yang merosot.

“Untuk perusahaan dengan likuiditas baik, kami akan lebih fokus kepada proyeksi kinerja pada akhir 2021 daripada kinerja jangka pendek karena peringkat itu bersifat melalui berbagai siklus,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi dolar as obligasi korporasi
Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top