Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dolar AS Longsor, Lockdown California Picu Kekhawatiran Resesi

Perintah Gubernur California kepada seluruh warga negara bagian ini untuk tidak meninggalkan rumah di tengah meluasnya penyebaran virus corona (Covid-19) melengserkan dolar Amerika Serikat (AS) dari relinya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  19:09 WIB
Seorang pembeli menghitung uang Dolar Amerika Serikat yang ditukarnya di gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Senin (15/7/2019). - ANTARA - Puspa Perwitasari
Seorang pembeli menghitung uang Dolar Amerika Serikat yang ditukarnya di gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Senin (15/7/2019). - ANTARA - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Perintah Gubernur California kepada seluruh warga negara bagian ini untuk tidak meninggalkan rumah di tengah meluasnya penyebaran virus corona (Covid-19) melengserkan dolar Amerika Serikat (AS) dari relinya.

Dolar AS membukukan kemerosotan terburuknya dalam lebih dari empat tahun akibat tertekan kekhawatiran bahwa perintah tersebut akan diikuti negara-negara bagian lain dan mendorong AS ke dalam resesi.

Bloomberg Dollar Spot Index tergelincir sebanyak 1,8 persen pada perdagangan hari ini, Jumat (20/3/2020), sedangkan pound sterling mencatat penguatan terbesarnya terhadap greenback dalam lebih dari 11 tahun.

Gubernur California Gavin Newsom mengeluarkan perintah eksekutif kepada seluruh warga untuk untuk tetap di dalam rumah mulai Kamis (19/3) malam waktu setempat hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.

Menurut Newsom, keputusan ini dibuat berdasarkan beberapa informasi baru dan proyeksi dari Universitas Johns Hopkins. Hingga Kamis malam, jumlah kasus Covid-19 di California mencapai 908 infeksi dengan korban jiwa mencapai 18.

Langkah Newsom menjadi upaya paling ketat oleh AS untuk membendung penyebaran corona. Ia memperkirakan 56 persen populasi negara bagian tersebut akan terinfeksi corona jika tidak ada tindakan yang signifikan.

“Dolar AS mengalami aksi jual sebagian karena kekhawatiran bahwa jika California dan beberapa negara bagian besar lain mengikuti langkah itu, tingkat pengangguran akan meningkat secara dramatis dan mendorong AS ke beberapa area antara resesi dan depresi,” ujar Mark Grant, chief global strategist di B. Riley FBR Inc.

“Ini adalah reaksi spontan dari orang-orang yang berpikir 'wah, kami tidak berpikir AS bisa masuk ke dalam masalah seperti ini tetapi mungkin memang bisa',” tambahnya, seperti dilansir Bloomberg.

Indeks dolar merosot dari rekor level tertingginya setelah mampu rally lebih dari 8 persen selama delapan sesi perdagangan terakhir. Permintaan akan mata uang cadangan dunia telah melonjak guna mengantisipasi pandemi virus corona yang berkepanjangan.

“Pergerakan dolar yang lebih lemah memberi kelonggaran bagi banyak mata uang yang telah terpukul habis olehnya,” tutur Mitul Kotecha, senior emerging-market strategist di TD Securities.

“Namun, permintaan untuk greenback tetap tinggi,” sambungnya.

Dolar bisa kembali ke jalurnya dalam beberapa bulan ke depan. Pembalikan risiko dalam jangka pendek dan jangka panjang, serta barometer sentimen pasar merupakan faktor bullish untuk greenback terhadap sebagian besar mata uang utama, terlepas dari mata uang safe haven lain seperti yen Jepang dan franc Swiss.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as california covid-19
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top