Bisnis.com, JAKARTA - Emiten perhotelan PT Esta Multi Usaha Tbk. menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di kisaran 10 persen pada 2020. Segmen baru akan menjadi salah satu penyokong pertumbuhan.
Direktur Utama Esta Multi Usaha Lukman Nelam mengatakan 70 persen pendapatan akan disumbang oleh segmen perhotelan. Tahun lalu, lanjutnya, segmen itu menyumbang sekitar Rp5 miliar.
Namun, tahun ini emiten bersandi saham ESTA itu akan mulai mengandalkan segmen penyewaan kendaraan. Ekspansi ke bisnis sewa kendaraan dinilai tepat karena peluang pasarnya masih terbuka lebar. Terlebih, segmen korporasi lebih banyak menyewa kendaraan, ketimbang membeli.
“Pendapatan dari hotel dengan porsi sekitar 70 persen sisanya dari rental kendaraan dan penyewaan ruko. Bisnis hotel kami sudah mature kondisinya, kami coba masuk ke sewa kendaraan,” ujarnya di Jakarta, Senin (9/3/2020).
Lukman menambahkan klien utama perseroan adalah perusahaan terafiliasi yang tengah membutuhkan kendaraan untuk fasilitas transportasi. Perseroan pun berencana menggunakan dana hasil penawaran umum sekitar Rp5 miliar untuk uang muka pembelian kendaraan yang akan disewakan.
Saat ini, ESTA sudah memiliki 33 unit kendaraan dan hingga akhir tahun, perseroan menargetkan penambahan 30-55 unit armada. Lukman menyebut, perseroan memilih segmen menengah ke bawah sehingga armada yang akan ditambah berasal dari jenis MPV. Tipe mobil MPV, lanjut Lukman, lebih banyak dibutuhkan saat ini oleh para klien.
Baca Juga
Selain itu, Lukman mengatakan tidak akan memperbesar segmen penyewaan komersial. Tahun lalu saja, pendapatan ESTA naik 165,44 persen ke posisi Rp5,09 miliar karena ada pelepasan salah satu kantor.
Secara umum, ESTA akan lebih fokus pada bisnis rental kendaraan dan perhotelan serta tidak akan melakukan ekspansi di segmen penyewaan komersial. Di segmen perhotelan, ESTA tengah membangun satu hotel baru di Gorontalo.
Lukman mengatakan pembangunan akan dimulai pada pertengahan tahun ini dengan target penyelesaian pada 2021.Perseroan berharap bisa menggaet banyak tamu dari korporasi dan pemerintah sebagai target pasar utama.
Adapun dana pembangunan hotel di Gorontalo menggunakan dana hasil penawaran umum sebesar Rp7,86 miliar. “Kami berharap okupansi bisa mencapai 80 persen lebih tinggi dari hotel kami di Bekasi sebesar 70 persen,” katanya.