Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Arwana (ARNA) Tetapkan Rasio Dividen 75 Persen

Dengan rasio dividen 75 persen, maka perseroan akan mengucurkan dividen sebesar Rp161,65 miliar.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 03 Maret 2020  |  18:57 WIB
Arwana (ARNA) Tetapkan Rasio Dividen 75 Persen
COO PT Arwana Citramulia Tbk Edy Suyanto (kanan) bersama CFO PT Arwana Citramulia Tbk Rudy Sujanto memberikan penjelasan saat paparan kinerja di Jakarta, Jumat (1/3/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten keramik PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) bakal memberikan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio sebesar 75 persen dari laba bersih sepanjang tahun 2019 kepada pemegang sahamnya.

“Tadi sudah diputuskan bahwa pembayaran dividen adalah sebesar Rp22 per share atau kurang lebih 75 persen dividend payout ratio,” ujar Rudy Sujanto, Chief Financial Officer Arwana Citramulia dalam acara Paparan Publik perseroan di Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Emiten keramik berkode saham ARNA tersebut berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,15 triliun atau naik 9,15 persen dari periode tahun sebelumnya. Adapun, laba bersih meningkat 37,61 persen menuju Rp215,53 miliar dari 2018 senilai Rp156,62 miliar.

Dengan rasio dividen 75 persen, maka perseroan akan mengucurkan dividen sebesar Rp161,65 miliar.

Dalam waktu dekat, perseroan juga sudah mengantongi restu dari pemegang saham untuk melakukan buyback saham dengan nilai sebesar Rp30 miliar pada tahun 2020.

Perseroan yang memproduksi keramik dengan jenama Arwana Ceramis tersebut juga akan menganggarkan belanja modal sebesar Rp165 miliar, dengan rincian peremajaan dan pembelian mesin.

Lebih lanjut, efek penurunan gas diklaim akan berpengaruh dalam kinerja jangka pendek dan panjang perseroan. Seperti diketahui, pemerintah berencana menurunkan harga gas industri sebesar US$ 6/Million British Thermal Unit (MMBTU)

“Tentunya dengan gas yang lebih murah, banyak persaingan, utilitas produksi bisa naik, mungkin saja harga jual terkoreksi,” sambung Rudy.

Namun, Rudy menyebutkan penurunan harga gas industri ini sangat berpengaruh terhadap rencana investasi perseroan ke depannya. Dengan harga gas yang lebih murah, perseroan lebih percaya diri untuk berkompetisi dengan produk impor segmen high end.

“Karena untuk produk high end, homogeneous tile, itu konsumsi gasnya jauh lebih tinggi daripada gas kita yang biasa. Dengan demikian, efeknya penurunan biaya sekitar Rp3.000-Rp4.000, sehingga kami bisa masuk ke pasar yang sama head to head dengan China,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

arwana citramulia
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top