Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Astra (ASII) Masih Optimistis Penjualan Otomotif Membaik

Sejumlah merek di bawah naungan Astra, seperti Toyota, Daihatsu, dan Isuzu juga kompak mencatatkan penurunan.
Deretan mobil Toyota siap dikapalkan di pelabuhan di Tanjung Priok Car Terminal. /TMMIN
Deretan mobil Toyota siap dikapalkan di pelabuhan di Tanjung Priok Car Terminal. /TMMIN

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan mobil kembali mencatatkan penurunan pada Januari, tetapi PT Astra International Tbk. masih optimistis kondisi tersebut dapat membaik.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diolah Astra, total penjualan mobil pada Januari mencapai 79.983 unit. Dibandingkan dengan penjualan pada Januari 2019, angka tersebut turun 2,45 persen.

Sejumlah merek di bawah naungan Astra, seperti Toyota, Daihatsu, dan Isuzu juga kompak mencatatkan penurunan. Secara total, penjualan mobil Astra mencapai 40.289 unit, turun 4,53 persen secara tahunan. Isuzu mengalami penurunan paling tajam, yakni 18,86 persen.

Penurunan penjualan Astra juga tercatat lebih dalam dibandingkan penjualan merek non-Astra pada Januari. Kumulasi penjualan non-Astra seperti Mitsubishi, Suzuki, dan Honda, mencapai 39.694 unit, turun hanya 0,23 persen. Hal ini membuat pangsa pasar Astra menurun dari 51 persen pada Januari 2019 menjadi 50 persen.

Head of Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengatakan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor negatif pada awal tahun. Salah satu yang paling berdampak adalah adanya bencana banjir yang menggenangi kawasan DKI Jakarta dan sekitarnya.

“Sayangnya, awal tahun ada bencana banjir, jadi angka penjualan Januari jadi terpengaruh. Lainnya karena memang permintaan masih lemah. Belum ada katalis makro dan industri otomotif sendiri,” katanya kepada Bisnis, Senin (17/2/2020).

Meski begitu, dia menilai penurunan ini belum dapat menjadi indikasi bahwa pasar akan kembali tertekan pada tahun ini. Dia tetap optimistis pasar otomotif nasional akan tumbuh sesuai dengan proyeksi Gaikindo di kisaran 5 persen.

“Kan baru 1 bulan, belum ada revisi target, mungkin kalau sudah 4 bulan akan direview kembali targetnya sesuai dengan perkembangan di pasar otomotif sendiri,” ujarnya.

Astra (ASII) Masih Optimistis Penjualan Otomotif Membaik

Dia menjelaskan penurunan penjualan juga akan berkorelasi terhadap pendapatan perseroan dari lini bisnis otomotif. Namun, dia mengatakan bahwa hal ini juga akan dipengaruhi oleh kombinasi produk seperti apa yang lebih banyak terjual.

Produk kendaraan roda empat di segmen medium dan high, lanjutnya, tentu akan memberikan pendapatan yang lebih tinggi. Sebaliknya, model di segmen yang lebih rendah akan menghasilkan pendapatan lebih kecil.

“Selain itu, tingkat kompetisi juga akan mempengaruhi pendapatan jika kompetisi di pasar tinggi dan menyebabkan diskon sehingga dapat mengurangi pendapatan,” katanya.

Berdasarkan data penjualan Januari, kendaraan bermotor roda empat hemat energi dan harga terjangkau (KBH2) naik 4,73 persen secara tahunan menjadi 12.083 unit. Kinerja ini menjadi penopang pertumbuhan penjualan KBH2 nasional yang naik 0,55 persen menjadi 17.056 unit. Hal ini juga terlihat dari pangsa pasar KBH2 Astra yang meningkat dari 68 persen menjadi 71 persen.

Rekomendasi Beli ASII

Dihubungi terpisah, Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai meski kinerja otomotif menurun, saham Astra masih direkomendasikan beli. Menurutnya harga saham Astra dapat mencapai Rp6.550 per saham.

Nafan menuturkan meski belum membaik, pasar otomotif Indonesia berpotensi tumbuh tinggi dalam jangka panjang. Salah satu pendorongnya adalah pemberian insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang akan berlaku mulai 2021.

Di luar bisnis otomotif, ASII juga berpotensi meraup cuan dari lini bisnis lain seperti jalan tol. Perseroan menarget dapat memiliki portofolio ruas tol sepanjang 500 km hingga tahun depan. Adapun, sejumlah ruas yang sudah dimiliki saat ini, di antaranya ruas Tangerang-Merak sepanjang 72,5 km, Cikopo-Palimanan sepanjang 116,8 km, dan Semarang-Solo sepanjang 72,6 km.

Selain itu, dia mengatakan bahwa kinerja Astra Internasional secara konsolidasi juga dapat terdorong oleh lini bisnis alat berat dan agribisnis. Peningkatan mandatori solar dengan kandungan biodiesel lebih tinggi akan menjadi salah satu katalis positif.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, lanjutnya, pendapatan ASII pada 2019 dan 2020 diperkirakan mencapai Rp241,3 triliun dan Rp252,78 triliun. Adapun, laba bersih diperkirakan mencapai Rp21,48 triliun dan Rp23,07 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan per akhir September 2019, Astra membukukan laba bersih sebesar Rp15,86 triliun, turun sekitar 7 persen secara tahunan. Adapun, laba bersih dari bisnis otomotif pada periode yang sama mencapai Rp6,06 triliun, turun 14 persen. 

Pada perdagangan hari ini, Senin (17/2/2020), harga saman emiten dengan ticker ASII ini ditutup pada level Rp6.100 per saham. Harga ini tidak mengalami perubahan dari penutupan pada hari sebelumnya. Adapun, level tertinggi ASII pada perdagangan hari ini adalah Rp6.175 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper