Saham Kontraktor Pelat Kuning Dinilai Kurang Menarik, Kenapa ya?

Kontraktor swasta dinilai kurang memiliki kapasitas dalam memenangkan proyek bernilai besar.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  05:06 WIB
Saham Kontraktor Pelat Kuning Dinilai Kurang Menarik, Kenapa ya?
Sejumlah gedung bertingkat di Jakarta. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis menilai emiten konstruksi dari kalangan swasta kurang diminati oleh investor karena keterbatasan kapasitas dalam memenangkan proyek bernilai besar. Kendati demikian, masih ada beberapa emiten konstruksi pelat kuning yang layak dicermati.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai sejumlah emiten konstruksi pelat kuning saat ini bukanlah pilihan yang menarik untuk investor seiring dengan tren harga saham yang cenderung menurun.

Dia membeberkan, dari sejumlah perusahaan emiten konstruksi swasta di Bursa Efek Indonesia, hanya PT Total Bangun Persada Tbk. yang memiliki pergerakan saham cukup menarik. Dia merekomendasikan hold untuk saham ini, dengan target harga pada akhir tahun di kisaran Rp390.

“HOLD untuk TOTL dengan target price di level Rp390 per lembar saham. ACST [PT Acset Indonusa Tbk.] not rated, karena trennya sangat bearish. TOPS [PT Totalindo Eka Persada Tbk.] juga not rated, karena trennya sangat bearish,” katanya kepada Bisnis, Rabu (12/2/2020).

Hingga perdagangan Rabu (12/2/2020), harga saham Total Bangun Persada dalam setahun terakhir turun 27,79 persen. Saham Acset Indonusa juga anjlok 51,30 persen dalam setahun terakhir. Saham Totalindo Eka Persada bahkan longsor hingga 86,02 persen dalam kurun waktu setahun terakhir.

Dia menilai, emiten konstruksi swasta memiliki ruang gerak terbatas untuk mendapatkan proyek dengan nilai kontrak besar. Pasar industri konstruksi di Indonesia, lanjutnya, masih akan didominasi oleh perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain keterbatasan dari sisi kemampuan keuangan, emiten konstruksi swasta juga sulit bersaing karena dinilai memiliki kualitas SDM dan teknologi yang lebih rendah dibandingkan kontraktor BUMN.

Menurut Nafan, untuk menyiasati hal itu, kontraktor swasta harus memanfaatkan peluang kemitraan dengan kontraktor yang lebih besar, baik BUMN maupun kontraktor asing. Cara ini diharapkan dapat diikuti dengan transfer pengetahuan untuk meningkatkan kapabilitas emiten-emiten itu.

“Mitra memang salah satu cara untuk meningkatkan kinerja fundamental mereka, kalau ada mitra swasta, bisa domestik atau luar negeri akan ada transfer teknologi. Itu skema kerja sama yang harus dilakukan karena biasanya BUMN karya juga melakukan hal yang sama,” jelasya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, kinerja emiten

Editor : Rivki Maulana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top