Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menakar Prospek Emiten BUMN Karya di Tahun Tikus Metal

Kinerja emiten konstruksi pelat merah pada tahun lalu tidak mencapai target karena situasi politik. Kinerja emiten diyakini pulih karena proyek-proyek yang tertunda akan terlaksana tahun ini.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  20:28 WIB
Alat berat dioperasikan untuk pembangunan konstruksi Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, DI Yogyakarta, Jumat (14/12/2018). - ANTARA/Andreas Fitri Atmoko
Alat berat dioperasikan untuk pembangunan konstruksi Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo, DI Yogyakarta, Jumat (14/12/2018). - ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

Bisnis.com, JAKARTA – Harga saham emiten konstruksi pelat merah terhuyung dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kondisi tersebut diyakini bakal berbalik di tahun 2020, tahun tikus metal atau tikus logam yang dipercaya bakal memberi banyak berkah untuk industri dengan elemen tanah, termasuk konstruksi.

Selama tahun berjalan (year to date), harga saham tiga emiten BUMN konstruksi terkoreksi, masing-masing PT PP (Persero) Tbk., PT Adhi Karya (Persero) Tbk., dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Adapun saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. sejak awal tahun bertengger di level yang sama

Harga saham BUMN karya melorot sejak sejak paruh kedua 2019. Meski pada Kamis (6/2/2020) harga saham PT PP ditutup menguat 3,36 persen ke level Rp1.230 per lembar, harga saham PTPP masih jauh dibandingakn dengan posisi akhir Januar 2019 di level Rp2.000 per saham.

Emiten konstruksi lain, Waskita Karya dan Adhi Karya  juga mengalami tren harga serupa. Kedua saham perusahaan ini menguat pada perdagangan beberapa hari terakhir namun harga saham mereka tidak lebih tinggi dibandingkan dengan posisi tahun lalu.

Hanya, Wijaya Karya yang sedikit mencatat tren berbeda. Harga  saham Wijaya Karya  ditutup di level Rp2.020 per lembar saham, lebih tinggi dari posisi Februari 2019 sebesar Rp1.800.

Dennies Christoper Jordan, Analis PT Artha Sekuritas Indonesia mengatakan secara umum, sejatinya harga saham emiten BUMN karya saat ini mencerminkan realisasi kinerja yang kurang mentereng sepanjang 2019. Keempat perusahaan ini gagal mencapai target nilai kontrak baru (NKB) pada 2019.

“Saya rasa harga saat ini sudah cukup menggambarkan kinerja. Seperti di mana kita ketahui hampir seluruh BUMN karya kinerjanya di bawah target,” ujarnya kepada Bisnis.

WIKA mencatatkan NKB sebesar Rp41,6 triliun, meleset dari target Rp61,74 triliun. WSKT juga mengalami hal serupa, target NKB Rp35 triliun sampai dengan Rp40 triliun luncas alias tidak tercapai karena realisasi NKB tercatat Rp26 triliun. Sementara itu, ADHI dan PTPP juga gagal mencapai target NKB masing-masing sebanyak Rp30 triliun dan Rp45 triliun.

Kendati demikian, seluruh emiten BUMN karya memasang target dengan nada optimisme yang tinggi pada 2020. Empat kontraktor pelat marah berharap bisa mencapai pertumbuhan di angka dua digit dibandingkan dengan tahun lalu.

ADHI memasang target NKB Rp35 triliun sedangkan WSKT di kisaran Rp45 triliun—Rp50 triliun. Target ambisius juga diusung WIKA dengan mengusung target NKB Rp65 triliun atau tumbuh 50 persen. Hanya PTPP yang membidik pertumbuhan NKB di level yang agak moderat sekitar 20 persen.

Dennies menilai, langkah BUMN memasang skenario optimis bukan tanpa aalasan. Dia menyebut, target NKB BUMN karya sangat mungkin terealisasi karena banyak proyek yang tertunda pada tahun lalu.

“Tahun 2020 diharapkan akan lebih baik di mana masalah proyek-proyek yang tertunda akibat tahun politik tahun lalu bisa diselesaikan di tahun ini,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Wijaya karya Tumiyana menilai bahwa harga saham perseroan saat ini tidak menggambarkan fundamental perseroan. Dia mengimbuhkan, sektor konstruksi memang tidak lagi menjadi sektor favorit investor.

“Kalau ngomong harga normalnya berapa sih harga saham WIKA sekarang, harusnya Rp3.000-an, subject to forecast to fundamental company, kenapa di-forecast rendah, orang selalu bilang konstruksi jelek, tapi kata siapa? Kita itu kerja ada planning-nya,” jelas Tumiyana kepada Bisnis, Kamis (6/2/2020).

Dia menambahkan, investor saat ini cenderung bertransaksi dengan tidak merujuk pada kondisi fundamental per emiten. Investor, lanjut Tumiyana memukul rata setiap emiten di satu sektor tertentu. Saat satu emiten konstruksi terhuyung, harga saham WIKA maupun emiten konstruksi lainnya turut terseret.

Sementara itu, Tim Analis JP Morgan memaparkan kontrak baru emiten BUMN karya turun pada 2018-2019 turun 7 persen akibat situasi politik. Sekarang, siklus itu sudah berlalu dan pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas. Oleh karena itu, perolehan kontrak baru diperkirakan bisa kembali terakselerasi

“Kami proyeksi NKB tumbuh 13 persen per tahun pada 2020-2021 sehingga order book tumbuh 9 persen pada periode tersebut,” tulis JP Morgan dalam riset yang dikutip Bisnis.com

Di antara empat emiten BUMN karya, JP Morgan memfavoritkan PTPP karena memiliki valuasi yang menarik. Target harga PTPP dipatok Rp2.500. Selain PTPP, saham WIKA dan WSKT juga direkomendasikan overweight dengan target harga masing-masing Rp3.200 dan Rp2.200 per saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja emiten
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top