Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pascalibur Imlek, Bursa China Anjlok Hingga 9 Persen

Bursa saham China anjlok hinga 9 persen pada perdagangan hari pertama pascalibur Tahun Baru Imlek, Senin (3/2/2020), di tengah memburuknya sentimen akibat wabah virus corona (coronavirus).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Februari 2020  |  10:17 WIB
Ilustrasi. Bursa saham China. -  Qilai Shen/ Bloomberg
Ilustrasi. Bursa saham China. - Qilai Shen/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham China anjlok hinga 9 persen pada perdagangan hari pertama pascalibur Tahun Baru Imlek, Senin (3/2/2020), di tengah memburuknya sentimen akibat wabah virus corona (coronavirus).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks CSI 300 melemah 7,39 persen ke level 3.708 pada pukul 09.16 WIB, setelah dibuka anjlok hingga 9,09 persen pagi tadi. Sementara itu, indeks Shanghai Composite melemah 7,43 persen setelah dibuka anjlok hingga 8,73 persen.

Ini merupakan pelemahan harian terburuk bursa China sejak tahun 2015. Pelemahan ini terjadi di tengah upaya para regulator yang merilis langkah-langkah untuk mengurangi tekanan bagi perusahaan, bank, dan individu, serta menjamin stabilitas keuangan di China.

Bank Sentral China (PBOC) menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem keuangan pada Senin, untuk memastikan pasar tetap stabil ketika tekanan masih berlanjut.

Selain itu, Bank Sentral juga mendesak para investor untuk mengevaluasi secara objektif dampak virus corona, yang telah menewaskan lebih dari 360 dan menyebar ke lebih dari 17.000 orang hingga hari ini.

Penurunan indeks saham dipimpin oleh produsen telekomunikasi, teknologi, dan komoditas. Di sisi lain, Indeks Hang Seng Hong Kong, yang turun 5,9% dalam tiga hari perdagangan pekan lalu, naik 0,2%.

PBOC menyuntikkan 900 miliar yuan (US$129 miliar) dengan suku bunga 7-day reverse repurchase agreement sebesar 2,4 persen. Bank Sentral juga akan menyuntikkan 300 miliar yuan dengan kontrak 14 hari sebesar 2,55 persen.

Meskipun total penambahan likuiditas ini merupakan yang terbesar sejak tahun 2004, menurut sejumlah analis langkah tersebut mungkin tidak cukup untuk mencegah saham dan mata uang negara Negeri Tirai Bambu jatuh.

Pemerintah China telah memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek sejak 24 Januari akibat terdampak wabah virus corona (coronavirus).

Wabah 2019-nCoV, virus corona jenis baru yang ditemukan pertama kali di kota Wuhan China, ini telah merenggut ratusan nyawa dan menjalar ke sejumlah negara lain.

Di antara perkembangan wabah coronavirus selama akhir pekan lalu, seorang pria dikabarkan meninggal di Filipina, kematian pertama di luar China. Sementara itu, maskapai-maskapai penerbangan di Asia, Eropa dan Timur Tengah telah menghentikan layanan ke China daratan.

Investor kini bersiap untuk menghadapi lebih banyak gejolak setelah pasar ekuitas global pekan lalu membukukan pekan terburuknya sejak Agustus di tengah kekhawatiran atas goyahnya pertumbuhan di tengah penyebaran virus tersebut.

"Terlalu dini untuk mengabaikan wabah ini hanya merupakan gangguan singkat terhadap pasar yang konstruktif," ujar Erik Nielsen, kepala ekonom grup di UniCredit Bank AG, London.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa china
Editor : M. Taufikul Basari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top