Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Akuisisi Rumah Sakit Tuntas, Kinerja Royal Prima Bakal Terkerek

Perubahan peraturan terkait pasien BPJS menjadi pemicu penurunan kinerja Royal Prima pada 2019.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 29 Januari 2020  |  07:22 WIB
Direktur PT Royal Prima Tbk. (PRIM) Mok Siu Pen mengungkapkan perseroan siap mengakuisisi 4 rumah sakit pada tahun ini, Selasa (15/5). - Bisnis/Novita Sari Simamora
Direktur PT Royal Prima Tbk. (PRIM) Mok Siu Pen mengungkapkan perseroan siap mengakuisisi 4 rumah sakit pada tahun ini, Selasa (15/5). - Bisnis/Novita Sari Simamora

Bisnis.com, JAKARTA — PT Royal Prima Tbk. membidik pertumbuhan kinerja hingga dua kali lipat sepanjang 2020 seiring proses akuisisi rumah sakit yang akan tuntas pada kuartal II/2020 mendatang. 

Direktur Royal Prima Michael Mok Siu Pen mengatakan saat ini proses akuisisi masih dalam tahap uji kelayakan. Sejak tahun lalu, emiten bersandi saham PRIM itu berencana mengakuisisi dua hingga enam rumah sakit yang berlokasi di Jabodetabek. 

“Tahun ini kinerja kami pasti akan naik, pada 2020 kami bisa naik 2 kali lipat untuk pendapatan dan laba dibandingkan dengan 2019, karena dengan selesainya akuisisi ini semua dikonsolidasi ke induk,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (28/1/2020).

Berdasarkan laporan keuangan PRIM per 30 September 2019, pendapatan perseroan terkoreksi 18,67 persen menjadi Rp125,42 miliar. Sebanyak 61,01 persen dari total pendapatan PRIM disumbang dari segmen pendapatan BPJS sedangkan sisanya non-BPJS. Pendapatan BPJS turun 34% menjadi Rp76,52 miliar. Sebaliknya, pendapatan non BPJS naik 27,81% menjadi Rp48,9 miliar. 

Di samping pendapatan lungsur, kinerja PRIM juga mengalami tekanan karena kenaikan beban administrasi sebesar 10,84 persen menjadi Rp38,24 miliar. Secara keseluruhan, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 86,12 persen (year on year) menjadi Rp1,98 miliar.

Menurut Michael, penurunan kinerja perseroan pada tahun lalu disebabkan sejumlah faktor, antara lain beban pembayaran pajak.  Di samping itu, perubahan aturan terkait pasien BPJS juga menjadi pemicu penurunan kinerja pendapatan.

“Kami anggap 2019 adalah tahun konsolidasi, karena ada peraturan pemerintah yang mengalami perubahan yang membuat pasien tidak bisa langsung ke rumah sakit tipe B,” ungkapnya.

Berdasarkan data Bloomberg, saham PRIM ditutup stagnan pada perdagangan Selasa (28/1/2020) pada level Rp328 per saham. Sepanjang tahun berjalan, saham PRIM terkoreksi sebesar 21,90% dengan nilai kapitalisasi pasar tercatat senilai Rp1,11 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja emiten
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top