Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Saham Eropa hingga Asia Tertekan Kekhawatiran Virus Mematikan

Pelaku pasar keuangan ramai-ramai menjauhi aset berisiko pada perdagangan di Asia hari ini, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang wabah virus asal China.
Seorang wanita mengenakan masker berjalan melewati papan pemberitahuan karantina tentang wabah virus corona di Wuhan, China di ruang kedatangan Bandara Haneda di Tokyo, Jepang, 20 Januari 2020./ REUTERS - Kim Kyung-Hoon
Seorang wanita mengenakan masker berjalan melewati papan pemberitahuan karantina tentang wabah virus corona di Wuhan, China di ruang kedatangan Bandara Haneda di Tokyo, Jepang, 20 Januari 2020./ REUTERS - Kim Kyung-Hoon

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham global kompak melemah pada perdagangan sore ini, Selasa (21/1/2020), tertekan oleh serangkaian sentimen negatif dari Hong Kong dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks futures S&P 500 turun 0,3 persen dan indeks Stoxx Europe 600 melemah 0,7 persen pada pukul 08.03 pagi waktu London (pukul 15.03 WIB). Pada saat yang sama, indeks MSCI Asia Pacific merosot 1 persen.

Pelaku pasar keuangan ramai-ramai menjauhi aset berisiko pada perdagangan di Asia, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang wabah virus asal China.

Virus corona (coronavirus) yang ditengarai menjadi penyebab wabah penyakit serupa SARS di Wuhan, China, telah kembali memakan korban jiwa dan menginfeksi banyak tenaga medis.

Pejabat kesehatan di kota Wuhan, China, mengkonfirmasikan kematian orang keempat akibat virus ini. Virus ini juga menginfeksi sejumlah pekerja medis, sekaligus meningkatkan risiko menyebarnya penyakit kala jutaan warga bersiap untuk melakukan perjalanan menjelang liburan Tahun Baru Imlek.

Kabar bertambahnya korban jiwa akibat virus itu menambah keresahan pada pasar, sehari setelah Moody's Investors Service menurunkan peringkat kredit Hong Kong menjadi Aa3 dari Aa2 karena kekacauan politik dalam negeri yang tak juga tampak berujung.

Akibatnya, beragam aset berisiko seperti saham terjungkal. Rata-rata kurs mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, dipimpin yuan China. Sebaliknya, pamor aset investasi aman (safe haven) seperti yen Jepang dan obligasi naik.

Munculnya wabah penyakit di China membangkitkan kekhawatiran atas pengalaman wabah Sindrom Pernapasan Akut Parah, atau SARS, sekitar 17 tahun lalu yang menelan hampir 800 nyawa.

Namun, sebagian pengamat pasar menganggap wabah virus belum menimbulkan ancaman serius. Ada pula yang tidak mengkaitkan virus corona China dengan aksi jual hari ini.

“Bagi pasar, pendorong yang lebih signifikan masih merupakan siklus ekonomi dan momentum kinerja korporasi,” ujar Fan Cheuk Wan, kepala strategi pasar Asia di HSBC Private Bank.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya yang kami temui selama periode SARS, dampak virus ini kemungkinan berumur pendek,” tambahnya.

Bagaimana pun, kombinasi meredanya ketegangan perdagangan, awal yang solid untuk musim laporan kinerja korporasi, dan tanda-tanda pertumbuhan global yang mencapai titik terbawahnya (bottom out) telah mendorong bursa saham global berulang kali mencetak rekor.

Bagi banyak investor, rally saham global kemungkinan sudah waktunya untuk berhenti.

Sejumlah perusahaan yang akan merilis laporannya di antaranya adalah Netflix, IBM, Procter & Gamble, dan Hyundai.

Pasar dipastikan juga akan menantikan keputusan kebijakan moneter bank-bank sentral di Kanada, Indonesia, dan Eropa, serta pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pekan ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper