IHSG Sepekan, Investor Asing Net Buy Rp764,13 Miliar

Kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil, investor asing masih cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp764,13 miliar pada pekan ini.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 18 Januari 2020  |  06:27 WIB
IHSG Sepekan, Investor Asing Net Buy Rp764,13 Miliar
Pejalan kaki berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil, investor asing masih cenderung melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp764,13 miliar pada pekan ini.

Pada penutupan perdagangan Jumat (17/1/2020), IHSG naik 0,09% atau 5,61 poin menjadi 6.291,66. Dalam sepekan, indeks meningkat 0,57%.

Hari ini, investor asing mencatatkan net buy senilai Rp197,16 miliar. Aksi beli bersih investor non residen itu mencapai Rp764,13 miliar selama sepekan.

Analis BNI Sekuritas Maxi Liesyaputra menyampaikan pada pekan ini indeks bergerak volatile, tetapi masih membukukan peningkatan. Beberapa faktor yang memengaruhi penguatan ialah kenaika bursa Amerika Serikat dan perbaikan neraca dagang.

“Selain itu, tren penguatan rupiah terhadap dolar AS turut memberikan pengaruh positif,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Jumat (17/1/2020).

Pada akhir perdagangan pekan ini, rupiah menguat 0,11% atau 15 poin menuju Rp13.645 per dolar AS. Dalam sepekan mata uang itu meningkat 0,85%.

Berdasarkan data BPS, pada Desember 2019 neraca perdagangan mengalami defisit US$0,03 miliar atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan defisit  November 2019 sebesar US$1,39 miliar. Secara keseluruhan, neraca perdagangan sepanjang 2019 mengalami defisit US$3,20 miliar.

Terkait minat investor asing, sambung Maxi, faktor yang mendorong masuk ialah prospek pertumbuhan kinerja emiten yang lebih baik.

Mengutip riset, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), potensi pertumbuhan laba emiten pada 2020 mencapai 10%-12%, dari 2019 sebesar 3%-5%.

Analis MNC Sekuritas Rui Suthong menuturkan investor asing memburu pasar emerging market, termasuk Indonesia, karena potensi prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada saat ekonomi global melemah, PDB Indonesia masih stabil di kisaran 5%.

“Saat ekonomi global goyah, kita masih bisa stabil. Artinya, ketika global bangkit, ekonomi Indonesia kian melaju, dan mereka [investor asing] melihat momentum ke depan itu,” imbuhnya.

Data neraca dagang yang membaik juga menjadi katalis positif. Hal itu didukung kenaikan harga komoditas CPO dan juga logam seperti nikel dan emas.

Harga CPO juga mendapat sentimen positif dari rencana India membatasi impor dari Malaysia. Sentimen ini turut memberikan dampak positif bagi Indonesia, karena Negeri Hindustan merupakan importir minyak sawit terbesar di dunia.

Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB), harga CPO pada Kamis (16/1/2020) mencapai 2.985 ringgit (US$736,31 atau Rp10,01 juta) per ton.

Dari sisi eksternal, dampak perang dagang antara AS-China kian mereda, sehingga risiko geopolitik tidak lagi terlalu memengaruhi.

Namun, secara umum pada pekan ini belum ada katalis atau sentimen yang sangat kuat, sehingga beberapa saham blue chip belum naik signifikan.

Rudi menyampaikan sebetulnya secara historis periode Januari merupakan masa bullish pasar saham melanjutkan momen Desember. Kenaikan belum terlihat signifikan karena masih ada masalah yang mengganjal, yakni persoalan seputar Jiwasraya.

“Ada katalis negatif dari dampak Jiwasraya, yang diharapkan segera selesai. Karena biasnaya ada peluang besar IHSG naik Januari,” imbuhnya.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan pada akhir pekan bursa saham Asia ditutup mayoritas menguat seiring dengan kinerja bursa saham berjangka AS.

IHSG pada Jumat (17/1/2020) ditopang rebound sektor pertanian (+0.75%) dan keuangan (+0.73%), sehingga mampu membalikan arah pada akhir sesi.

Peluang turunnya stok persediaan minyak kelapa sawit ke level terendah dalam delapan bulan menjadi katalis positif bagi harga CPO. Sebelumnya pada November 2019, stok persediaan CPO turun 13% menjadi 3,49 juta ton.

“Persedian menurun akibat cuaca kering menghambat produksi petani. Ini mendorong harga CPO,” paparnya.

Adapun, data pertumbuhan pinjaman sebesar 6,08% menurun di bawah ekspektasi 6,7%. Hal ini menjadi katalis negatif bagi prospek bisnis properti dan konstruksi.

Lanjar menuturkan secara teknikal IHSG mulai beranjak kuat diatas level support Moving Average 200 hari, 20 hari dan 5 hari. Indeks dperkirakan cenderung bergerak menguat pada awal pekan depan dengan support resistance 6.255-6.340.

Saham-saham yang masih cukup menarik secara teknikal adalah BISI, SSMS, LSIP, AALI, ULTJ, BMRI, PNBN, MEDC, WEGE, ERAA, dan ESSA.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top