IHSG Melemah 0,38 Persen, BBCA & BRPT Batasi Koreksi

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (15/1/2020), pascarilis data neraca perdagangan untuk bulan Desember 2019.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  12:39 WIB
IHSG Melemah 0,38 Persen, BBCA & BRPT Batasi Koreksi
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/9). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (15/1/2020), pascarilis data neraca perdagangan untuk bulan Desember 2019.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,38 persen atau 24,2 poin ke level 6.301,2 pada akhir sesi I dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (14/1/2020), IHSG mampu menutup pergerakannya di level 6.325,41 dengan penguatan 0,46 persen atau 28,84 poin.

Sebelum berbalik ke zona merah dan melemah, indeks sempat memperpanjang penguatannya hingga mendekati level 6.350 setelah dibuka naik tipis 0,01 persen atau 0,76 poin di posisi 6.326,817 pada Rabu (15/1) pagi.

Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.299,6 – 6.348,53.

Tujuh dari sembilan sektor menetap di zona merah pada akhir sesi I, dipimpin pertanian (-1,77 persen) dan properti (-1,32 persen). Adapun sektor industri dasar dan finansial mampu naik 0,81 persen dan 0,14 persen masing-masing.

Dari 675 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, sebanyak 112 saham menguat, 246 saham melemah, dan 317 saham stagnan dari total 675 saham.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang masing-masing turun 1,73 persen dan 3,74 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada akhir sesi I.

Di sisi lain, penguatan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) masing-masing sebesar 1,24 persen dan 5,65 persen menjadi pendorong utama sekaligus membatasi besarnya pelemahan IHSG.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja neraca perdagangan Desember 2019 mengalami defisit tipis US$28,2 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit tersebut terjadi seiring dengan nilai impor Desember 2019 yang mencapai US$14,50 miliar dibandingkan dengan kinerja nilai ekspor Desember 2019 yang mencapai US$14,47 miliar.

"Defisit Desember ini tipis jauh dibandingkan dengan defisit November 2019," katanya saat jumpa pers. Adapun kinerja neraca perdagangan November 2019 tercatat mengalami defisit sebesar US$1,33 miliar.

Sejumlah ekonom sebelumnya memperkirakan neraca perdagangan Desember 2019 mencatatkan defisit hingga US$970 juta yang salah satunya dipicu oleh meningkatnya impor barang konsumsi seiring dengan perayaan Natal dan Tahun Baru.

Menurut Suhariyanto, pencatatan neraca dagang Desember 2019 dengan defisit yang tipis ini sudah memperbaiki kinerja neraca dagang kumulatif 2019 sehingga nilai defisit pada tahun lalu tidak sebesar defisit pada 2018.

“Total kumulatif Januari 2019 sampai Desember 2019, untuk ekspor 2019 adalah US$167,63 miliar dan total impor adalah US$170,72 miliar. Sehingga defisit ini masih jauh lebih kecil dari kumulatif 2018 sebesar US$8,7 miliar,” kata Suhariyanto.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 turun 0,34 persen atau 1,95 poin ke level 566,29, sedangkan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index melemah 0,55 persen atau 3,81 poin ke posisi 692,70 pada akhir sesi I.

Indeks saham lainnya di Asia mayoritas juga melemah pada perdagangan siang ini. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing terkoreksi 0,53 persen dan 0,70 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan turun 0,52 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 melemah 0,63 persen dan 0,74 persen masing-masing. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,84 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Neraca Perdagangan

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top