Begini Cara Keluar dari Saham Nyangkut

Saat mengalami situasi tersebut investor atau trader, terutama pemula, seringkali ragu atau tidak berani untuk menjual sahamnya karena kerugian yang akan ditanggung sangat besar, hingga akhirnya terjebak pada posisi 'nyangkut'.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  19:50 WIB
Begini Cara Keluar dari Saham Nyangkut
Pengunjung berjalan di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam berinvestasi saham tidak selamanya market bergerak sesuai dengan harapan kita. Bukannya naik, saham yang dibeli terkadang justru turun terus hingga berada di posisi rugi (loss).

Saat mengalami situasi tersebut investor atau trader, terutama pemula, seringkali ragu atau tidak berani untuk menjual sahamnya karena kerugian yang akan ditanggung sangat besar, hingga akhirnya terjebak pada posisi 'nyangkut'.

Saham nyangkut juga banyak terjadi pada investor yang mengabaikan tingkat ketahanan risikonya. Padahal menetapkan batasan toleransi risiko sangat penting. Misalnya, Anda membatasi kerugian pada kisaran 5 persen. Begitu saham turun 5 persen, Anda harus segera memutuskan untuk keluar dari saham tersebut atau cut loss.

Untuk menghindari saham nyangkut, Anda juga perlu memperhatikan cash management Anda. Jangan sampai Anda terlalu menggebu melakukan banyak pembelian hingga menghabiskan dana pada satu saham yang tengah naik. Sebab begitu saham tersebut bergerak turun,bisa-bisa Anda terpaksa gigit jari karena tidak memiliki amunisi untuk beralih ke saham yang lebih prospektif.

Lalu bagaimana langkah yang perlu dilakukan, bila kita terlanjur terjebak dalam posisi 'nyangkut' di suatu saham yang bergerak turun?  

Belum lagi kita tidak bisa memprediksi bagaimana pergerakan ke depan saham tersebut, yang mungkin saja akan terus turun hingga menimbulkan potensi kerugian yang lebih besar.

Tinjau Isi Portofolio

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai hal pertama yang perlu dilakukan bila mengalami situasi tersebut adalah memperhatikan komposisi portofolio investor. 

“Tinjau isi portofolio, kira-kira pengganti cut loss-nya ada enggak di saham lain.  Misal, punya lima portofolio di saham A,B,C,D,E. Ternyata saham C dan D masih nyangkut di posisi merah. Kemudian ditinjau lagi ternyata dua saham ini prospek makin redup, outlook industri masih turun, belum ada perkembangan signifikan, maka bisa lakukan cut loss,” ketika dihubungi Bisnis.com, Selasa (14/1/2020).

Cut Loss

Kemudian ketika memutuskan untuk melakukan cut loss, hitung berapa besar potensial cut loss-nya. Apakah perlu menjual seluruh lot saham Anda atau sebagian saja. 

Langkah berikutnya, kata Reza, Anda harus mencermati saham lain yang memiliki potensial kenaikan yang bagus. Tujuannya agar saham-saham baru yang mengalami kenaikan bisa mengkompensasi penurunan pada saham yang dilepas. 

“Dengan begitu portofolio kita enggak akan merah-merah banget. Karena dapat saham baru yang kenaikannya lebih besar di portofolio,” katanya.

Average Down

Strategi average down atau menambah porsi saham ketika harga turun untuk meminimalisir kerugian, juga bisa dilakukan.  Namun untuk melakukan average down, perlu secara cermat melihat ritme pergerakan saham, serta melihat volume bid dan offer saham tersebut.

“Jangan sampai average down, tapi harga turun terus. Kalau misal beli pada harga Rp1.000, kemudian turun jadi Rp900, lalu saham itu tetap turun maka tahan dulu average down,” kata Reza.

Reza juga mengingatkan untuk tidak memilih saham hanya berdasarkan rumor atau iming-iming kenaikan keuntungan lebih tinggi saja. Investor harus mencermati suatu saham dengan baik agar sahamnya tidak nyangkut.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top