Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemilau Saham Tambang Logam

Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 8 dari 10 emiten di sektor tambang logam dapat memberikan return positif sepanjang tahun lalu. PT Merdeka Copper Gold Tbk., PT J Resources Asia Pasifik Tbk., dan PT Kapuas Prima Coal Tbk.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 03 Januari 2020  |  07:33 WIB
Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). -  ANTARA / Hafidz Mubarak A
Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). - ANTARA / Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas emiten-emiten pada sektor tambang logam mampu menutup tahun dengan kemilau. Hal itu tercermin dengan pergerakan saham emiten-emiten tersebut di lantai bursa sepanjang 2019.

Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 8 dari 10 emiten di sektor tambang logam dapat memberikan return positif sepanjang tahun lalu. PT Merdeka Copper Gold Tbk., PT J Resources Asia Pasifik Tbk., dan PT Kapuas Prima Coal Tbk.

Di sisi lain, PT Central Omega Resources Tbk., dan PT Cita Mineral Investindo Tbk. mencatatkan return negatif sepanjang tahun lalu.

Adapun pada tahun lalu, komoditas emas mengalami penguatan yang baik seiring dengan bergejolaknya keadaan makro ekonomi dunia yang disebabkan oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Hal itu membuat permintaan instrumen investasi yang lebih aman atau safe haven seperti emas menjadi meningkat, sehingga membuat harganya sangat baik pada tahun lalu.

Setali tiga uang dengan penguatan harga emas, saham-saham emiten tambang logam yang memiliki fokus bisnis pada pertambangan emas turut mengalami penguatan.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Nugroho R. Fitriyanto mengungkapkan bahwa pada tahun ini komoditas emas masih memiliki prospek yang baik. Menurutnya prospek komoditas emas lebih mengikuti faktor global.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Dia menjelaskan bahwa komoditas tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor risiko global yang biasanya terjadi seiring dengan gejolak ekonomi global. Untuk tahun ini, dia memproyeksikan pergerakan harga emas tidak akan sebaik tahun lalu.

“Saya rasa ke depan risiko perlambatan global bisa semakin minim dengan naiknya perdagangan global, sehingga demand untuk safe haven seperti emas tidak akan sekuat kmrn,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Larangan Ekspor Bijih Nikel

Adapun pada tahun ini Nugroho menilai emiten yang memiliki lini bisnis pada komoditas nikel yang akan paling diuntungkan. Pasalnya, larangan ekspor nikel yang diterapkan pada tahun ini dinilai dapat mendongkrak harga komoditas tersebut di pasaran.

Selain itu, permintaan komoditas nikel diproyeksikan bakal meningkat yang didorong oleh untuk kebutuhan baterai seiring dengan pertumbuhan kendaraan listrik yang exponential.

Tidak hanya itu, pemangkasan royalti yang dilakukan pemerintah dinilai menjadi sentimen positif untuk kinerja emiten-emiten tambang logam.

Sebelumnya, perubahan tarif royalti untuk mineral dan batu bara telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 20 November 2019 dan diundangkan pada 25 November 2019. Aturan tersebut berlaku secara efektif 30 hari kerja setelah diundangkan atau paling tidak pada Januari 2020.

Aturan tersebut bakal tertuang dalam PP No.81/2019 yang dalam beleid tersebut mencabut tarif yang ditetapkan pada PP No. 9/2012. Beleid tersebut menetapkan royalti feronikel mulai tahun depan sebesar 2% dari harga jual dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 4%.

“Pemotongan royalti pemerintah terhadap produk turunan nikel seperti ferronickel cukup membantu produsen untuk meningkatkan marginnya,” katanya.

Untuk itu, emiten harus memaksimalkan peluang tersebut dengan terus menggenjot program penghiliran komoditas nikel di Tanah Air.

ANTM dan INCO

Berdasarkan catatan Bisnis, pada saat ini terdapat 2 emiten yang tengah fokus untuk melakukan percepatan proyek penghiliran komoditas nikel yakni PT Aneka Tambang Tbk., dan PT Vale Indonesia Tbk. “Kami merekomendasikan ANTM dan INCO untuk sahamnya,” jelasnya.

Dalam riset yang dikeluarkan Sinarmas Sekuritas, untuk sektor tambang logam disebutkan bahwa dalam kurun beberapa waktu terakhir menjelang tutup tahun, harga nikel sempat anjlok menuju US13.000 per ton dari harga tertingginya pada tahun ini US$18.050 per ton.

Hal tersebut disebabkan oleh permintaan yang lebih rendah dari sektor stainless steel, pada saat yang sama, harga stainless steel tercatat melemah 11,4% sepanjang tahun 2019.

Sementara itu, turunnya permintaan nikel juga disebabkan oleh menurunnya permintaan dari sektor kendaraan listrik. Pasalnya, melemahnya permintaan tersebut disebabkan oleh keputusan pemerintah China yang akan mencabut subsidinya pada Juni 2019.

Di sisi lain, larangan ekspor nikel dinilai dapat mendongkrak permintaan komoditas tersebut ke depannya. Hal itu menjadi sentiment yang baik untuk pergerakan harga nikel di pasar global.

Untuk sektor ini, Sinarmas Sekuritas menurunkan peringkat untuk sektor ini menjadi netral, meskipun memiliki potensi kenaikan harga. Adapun peringkat tersebut diberikan dengan asumsi harga nikel dalam jangka panjang yakni US$16.000 per ton.

“Untuk di sektor tambang logam kami masih merekomendasikan ANTM dan INCO,” seperti tertulis dalam riset.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

antam emiten tambang inco
Editor : M. Taufikul Basari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top