Harga Nikel dalam Tekanan

Nikel turun di bawah US$14.000 per ton untuk pertama kalinya dalam empat bulan karena penurunan telah menembus level teknis utama, mempercepat pelemahan yang didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap ekonomi China yang lebih lemah.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  06:37 WIB
Harga Nikel dalam Tekanan
Nikel cair dituangkan di Pabrik Metalurgi Nadezhda di perusahaan Norilsk Nickel di kota Arktik, Norilsk. - REUTERS/Polina Devitt

Bisnis.com, JAKARTA -- Menuju akhir tahun ini, logam yang semula menjadi komoditas dengan kinerja terunggul kini justru kehilangan tenaga.

Nikel turun di bawah US$14.000 per ton untuk pertama kalinya dalam empat bulan karena penurunan telah menembus level teknis utama, mempercepat pelemahan yang didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap ekonomi China yang lebih lemah.

Pasar nikel telah jatuh bebas sejak September karena investor mengalihkan perhatian mereka dari kondisi pasokan yang ketat untuk fokus pada perlambatan permintaan di industri baja pembangkit tenaga listrik China.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (29/11/2019) harga nikel di bursa London berada di level US$13.667,5 per ton turun 2,29%. Nikel pun mengalami penurunan bulanan terburuk dalam lebih dari delapan tahun, yaitu turun 18,11%. Adapun, harga telah anjlok 25% dari level puncaknya tahun ini pada September.

Kepala Analis Logam Dasar di R.J O’Brien, Keith Wildie, mengatakan bahwa saat ini sulit untuk mencari sentimen yang dapat mendukung harga nikel untuk kembali berbalik menguat dalam waktu dekat.

Seperti yang diketahui, harga nikel di pasar spot menguat tajam bersamaan dengan reli penguatan harga nikel di pasar berjangka pada September, karena para pedagang khawatir bahwa larangan ekspor bijih nikel oleh Indonesia akan mengganggu pasokan.

Namun, saat ini spread telah terurai dengan harga di dua pasar tersebut berbeda jauh dan menandakan bahwa kecemasan pasar atas ketersediaan pasokan sudah berlalu.

“Runtuhnya spread nikel bisa lebih jauh lagi ke depan sehingga menunjukkan bahwa harga nikel yang lebih rendah ini telah mengakar dan sulit berbalik menguat,” kata Wildie seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (1/12/2019).

Commodity Sales Executive di Marex Spectron Group Alaistair Munro mengatakan bahwa sejauh ini, banyak tekanan pada harga dari investor bullish yang telah keluar dari posisi mereka sehingga taruhan bearish terhadap pasar mulai menumpuk.

"Kami melihat pasar nikel di LME sudah cenderung flat meskipun nikel di pasar Shanghai mulai terlihat akan berbalik arah menguat," ujar Alaistair seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (1/12/2019).

Sementara itu, Analis Argonaut Asia Research Helen Lau mengatakan bahwa penurunan harga nikel dipicu oleh penurunan harga stainless steel yang terus menurun karena persediaan terkonsolidasi pada rekor tertinggi.

"Sentimen negatif juga ditambah dengan berkurangnya ekspor stainless steel dan lonjakan persediaan nikel di Shanghai Futures Exchange, meningkatkan risiko kelebihan pasokan di pasar China," papar Helen.

STIMULUS CHINA

Di sisi lain, kemerosotan pada laba industri China sehingga menjadi penurunan terburuk dalam catatan menambah kekhawatiran pasar bahwa permintaan dari negara konsumen terbesar di dunia tersebut melemah.

Melihat keadaan tersebut, Pemerintah China pun sesungguhnya telah menggelontorkan stimulus untuk memperbaiki kondisi ekonomi dalam negerinya terutama di sektor industri. China meningkatkan pendanaan untuk infrastruktur dengan mempercepat penerbitan utang pemerintah daerah senilai US$142 miliar.

Namun, stimulus tersebut dinilai gagal untuk memicu penguatan pada pasar logam karena investor berpendapat bahwa stimulus tersebut merupakan kelanjutan dari dukungan kebijakan yang ada dan bukan kebijakan baru untuk mendorong ekspansi lebih baik.

Hal tersebut tercermin dari harga logam dasar lainnya yang juga masih berada di level rendah, bersama dengan nikel.

Apalagi ditambah dengan sentimen Presiden AS Donald Trump yang menandatangani RUU yang mendukung demonstran Hong Kong. Penandatangan tersebut memicu Pemerintah China yang berjanji untuk mengeluarkan langkah tegas terhadap AS, karena menganggap Negeri Paman Sam tersebut terlalu ikut campur masalah dalam negeri China.

Akibat sentimen tersebut pun meningkatkan kekhawatiran pasar kesepakatan dagang parsial dengan China berpotensi gagal direalisasikan.

Pada pasar logam dasar lainnya, tembaga di pasar LME ditutup melemah 0,48% menjadi US$5.864 per ton pada perdagangan Jumat (29/11/2019). Kemudian, seng juga ditutup melemah 0,2% menjadi US$2.273 per ton.

Sementara itu, timah dan aluminium berhasil menguat dengan masing-masing bergerak naik 0,46% dan 1,3% menjadi US$16.495 per ton dan US$1.770 per ton.

Adapun pada perdagangan pekan depan, nikel dan logam dasar lainnya masih akan fokus terhadap perkembangan negosiasi dagang antara AS dan China. Jika kedua negara berhasil memberikan perkembangan yang positif, harga nikel dan logam dasar lainnya berpeluang untuk berbalik menguat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Nikel

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top