Saham BBRI dan TLKM Tertekan, IHSG Turun Lebih dari 1 Persen

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (7/11/2019), dengan saham BBRI dan TLKM sebagai penekan utamanya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 07 November 2019  |  12:58 WIB
Saham BBRI dan TLKM Tertekan, IHSG Turun Lebih dari 1 Persen
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/10/2019). - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (7/11/2019), dengan saham BBRI dan TLKM sebagai penekan utamanya.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melorot 1,32 persen atau 82,22 poin ke level 6.135,32 pada akhir sesi I dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (6/11), IHSG mengakhiri pergerakannya di level 6.217,54 dengan pelemahan 0,74 persen atau 46,61 poin.

Sebelum kembali melemah, indeks sempat rebound ke wilayah positif dengan dibuka naik 0,27 persen atau 17,06 poin di posisi 6.234,6 pada Kamis (7/11) pagi. Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak di level 6.130,78 – 6.235,64.

Seluruh sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin aneka industri (-1,93 persen), finansial (-1,79 persen), dan tambang (-1,60 persen).

Adapun sebanyak 86 saham menguat, 296 saham melemah, dan 277 saham stagnan dari 659 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing turun 4,57 persen dan 2,43 persen menjadi penekan utama IHSG pada akhir sesi I.

Dilansir dari Bloomberg, IHSG melemah untuk hari kedua seiring dengan turunnya saham emiten bank setelah Presiden Joko Widodo kembali meminta perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit.

Pada Rabu (6/11/2019), Presiden Jokowi meminta perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit menyusul langkah pemangkasan suku bunga acuan yang kini berada di level 5 persen oleh Bank Indonesia (BI).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 merosot 1,70 persen atau 9,28 poin ke level 537,06 dan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index melemah 1,51 persen atau 10,50 poin ke posisi 682,31 pada akhir sesi I.

Indeks saham lain di Asia mayoritas juga bergerak negatif, di antaranya indeks Nikkei 225 Jepang (-0,09 persen) dan indeks Hang Seng Hong Kong (-0,43 persen).

Di China, dua indeks saham utamanya, Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing turun 0,28 persen dan 0,18 persen pada pukul 12.04 WIB.

Dilansir dari Reuters, bursa Asia bergerak ke posisi lebih rendah di tengah ketidakpastian tentang penandatangan perjanjian perdagangan pendahuluan antara pemerintah AS dan China.

Seorang pejabat senior di pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan kepada Reuters bahwa penandatanganan perjanjian perdagangan "Fase Satu" bisa ditunda hingga Desember mendatang.

Padahal, Presiden Trump sebelumnya mengindikasikan perjanjian tersebut dapat ditandatangani pada November. Keresahan investor pun bertahan mengenai risiko-risiko terhadap prospek global mengingat perang dagang AS-China tidak menunjukkan tanda-tanda resolusi cepat.

“Banyak kabar baik [sebelumnya] dihubung-hubungkan dengan prospek penandatanganan Fase Satu kesepakatan perdagangan. Kabar mengenai keterlambatan dalam penandatanganan kesepakatan semacam itu mengarah pada sebagian pembalikan,” ujar Mitul Kotecha, pakar strategi senior di TD Securities.

“Investor akan ingin melihat apakah penundaan itu hanya karena ingin menemukan lokasi atau apakah karena laporan terkait keinginan China agar AS mengurangi sebagian tarif,” tambahnya.

Seiring dengan meredupnya daya tarik aset-aset berisiko, nilai tukar rupiah pun terpantau melemah 16 poin atau 0,11 persen ke level Rp14.039 per dolar AS pukul 11.11 WIB.

Di sisi lain, Bank Indonesia menyatakan cadangan devisa pada Oktober 2019 mengalami kenaikan menjadi US$126,7 miliar dari bulan sebelumnya US$124,3 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Onny Widjanarko menyatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

Kenaikan pada Oktober 2019 ini juga lebih tinggi dari posisi cadev pada Agustus 2019 sebesar US$126,4 miliar.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujar Onny melalui siaran pers yang diterima Bisnis.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top