Ini Strategi Manajer Investasi Sambut Momentum Window Dressing

IHSG diproyeksi bergerak pada rentang 5.800—6.800 dengan nilai tengah 6.315 pada tahun ini.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 01 November 2019  |  09:26 WIB
Ini Strategi Manajer Investasi Sambut Momentum Window Dressing
Petugas menjelaskan tata cara berinvestasi kepada calon investor di gedung Jakarta Investment Center (JIC), Jakarta, Kamis (2/8/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Para manajer investasi mulai mengatur ulang underlying asset untuk produk reksa dana berbasis saham menjelang window dressing pada akhir tahun.

Budi Hikmat, Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya menggunakan panduan SIVEL untuk mengatur portofolio saham.

Adapun SIVEL merupakan akronim dari sentiment, interest rate, valuation, earning, dan liquidity. Dengan pendekatan ini, pemilihan saham lebih dilakukan lewat stock picking ketimbang lewat alokasi aset (asset allocation).

“Ya [stock picking], tidak bisa bullish untuk keseluruhan saham,” kata Budi kepada Bisnis, baru-baru ini.

Budi menilai sebetulnya tidak perlu window dressing pun prospek pasar saham tetap menarik lantaran obligasi telah reli cukup banyak.

Peluang investasi dalam aset saham disebut bakal semakin jelas setelah yield Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun turun ke bawah 7% dan ada indikasi penguatan daya beli.

Sebelumnya, pemangkasan suku bunga biasanya memicu kenaikan harga saham sektor perbankan diikuti oleh sektor properti dan otomotif. Namun, dengan daya beli yang belum pulih, penurunan suku bunga saat ini tampak lebih menopang saham perbankan.

“Ada istilah TINA (there is no alternatif) yaitu investor terpaksa memilih saham perbankan termasuk karena faktor likuiditas, selain kemampuan mempertahankan margin,” jelas Budi.

Namun demikian, isu kredit bermasalah yang menghantam sektor perbankan juga menjadi tantangan di samping valuasi yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan sektor perbankan di negara lain.

Hingga akhir tahun, manajer investasi yang mengelola dana sekitar Rp51 triliun per 23 Oktober 2019 ini memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang 5.800—6.800 dengan nilai tengah 6.315 pada tahun ini.

Sementara itu, yield SBN 10 tahun diperkirakan berada pada rentang 6,4%—7,4% dengan nilai tengah 6,9% pada akhir tahun nanti.

Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, menyampaikan bahwa pihaknya tidak terlalu spesifik mempersiapkan portofolio untuk momentum window dressing.

“Kami tidak spesifik untuk window dressing karena itu kan hanya satu bulan,” tuturnya.

Namun demikian, dirinya optimistis bahwa pasar saham akan menguat pada akhir tahun ini. Pasalnya, sepanjang 2001—2018, kinerja pasar saham pada Desember belum pernah berada di teritori negatif.

Lebih lanjut, Panin AM memilih portofolio saham sambil menyesuaikan dengan strategi dari masing-masing produk reksa dananya.

Secara keseluruhan, saham sektor keuangan lebih banyak dikoleksi. Adapun sentimen pemangkasan suku bunga dinilai akan dapat memperkokoh saham perbankan.

Sementara itu, saham perusahaan keuangan berkapitalisasi menengah dan kecil juga tetap dipilih karena menawarkan valuasi yang menarik.

“[Pemilihan saham] tergantung reksa dananya, ada reksa dana yang banyak saham properti dan keuangan, ada pula reksa dana—karena strateginya—yang lebih banyak ke [saham] komoditas,” jelas Rudi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top