Euforia Penyusunan Kabinet Dorong Rupiah Melaju di Zona Hijau

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp14.081 per dolar AS, menguat 0,476% atau 67 poin.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  18:17 WIB
Euforia Penyusunan Kabinet Dorong Rupiah Melaju di Zona Hijau
Karyawan menghitung lembaran uang rupiah dan dolar. - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Euforia penantian pasar terhadap pengumuman susunan menteri kabinet periode kedua Presiden Joko Widodo membantu rupiah menguat signifikan pada perdagangan Senin (21/10/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp14.081 per dolar AS, menguat 0,476% atau 67 poin dan menjadi mata uang dengan kinerja penguatan terbaik kedua di antara mata uang Asia lainnya.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa penguatan mata uang Garuda cukup baik pada perdagangan kali ini karena berhasil menembus level support Rp14.100 per dolar AS menjelang pengumuman nama-nama menteri yang akan membantu Jokowi di periode kedua.

Ariston mengatakan bahwa tanggapan pasar terhadap gambaran susunan menteri yang siap dilantik pada Rabu (23/10/2019) cukup positif dan pesona dari setiap calon menteri yang telah bertandang ke istana menumbuhkan optimisme di pasar.

“Ini masih belum jelas, tetapi pasar tampak sudah menanggapinya positif dan mendukung. Apalagi ketika Jokowi merangkul oposisi sehingga setiap kebijakan pemerintah nantinya bisa didukung oleh sebagian besar parlemen menimbulkan kepastian politik yang berdampak positif terhadap rupiah,” ujar Ariston kepada Bisnis, Senin (21/10/2019).

Senada, Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa sentimen pengumuman susunan kabinet tersebut berhasil membawa pengaruh yang luar biasa terhadap rupiah.

Prediksi nama menteri yang akan mengisi kursi kabinet, terutama menteri di bidang perekonomian, telah mendorong optimisme pasar bahwa ekonomi Indonesia akan berjalan jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Apalagi, ketika Jokowi mengatakan dalam pidato kepresidenan pertamanya di periode kedua bahwa dirinya menargetkan PDB Indonesia dapat mencapai US$7 triliun pada 2045 dan masuk lima besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen.

“Nama-nama baru dan yang datang saat ini ke istana lebih banyak dari kalangan profesional sehingga membuat pasar sangat optimis terhadap ekonomi Indonesia dan rupiah menguat cukup baik,” ujar Ibrahim kepada Bisnis.

Selain itu, penguatan rupiah juga ditopang oleh sentimen eksternal seperti perkembangan positif dari negosiasi perdagangan AS dan China serta Brexit.

Kendati parlemen kembali menolak draf kesepakatan Brexit, Parlemen Inggris berhasil membujuk PM Inggris Boris Johnson untuk meminta perpanjangan tenggat waktu Brexit lagi kepada Uni Eropa.

Partai DUP pun setuju untuk melakukan dialog terkait perbatasan Irlandia Utara yang menjadi poin postitf karena konflik yang menghambat kesepakatan selama ini bisa selesai sehingga dapat menghasilkan Brexit dengan kesepakatan.

Sementara itu dari sisi negosiasi dagang, AS dan China telah sepakat akan melakukan pembicaraan lanjutan terkait kesepakatan parsial atau perjanjian fase pertama yang sudah dicapai pada dua pekan lalu.

Oleh karena itu, Ibrahim mengatakan bahwa rupiah berpotensi untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (22/10/2019) di kisaran Rp14.055 per dolar AS hingga Rp14.115 per dolar AS.

Sementara itu, Ariston memperkirakan penguatan rupiah berada di kisaran Rp14.000 per dolar AS hingga Rp14.150 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as, Rupiah

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top