Dolar AS Rawan Terkoreksi Lagi, Ini Penekannya

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif antara zona positif dan negatif pada perdagangan pagi ini, Senin (7/10/2019), menjelang digelarnya perundingan dagang antara AS dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  10:30 WIB
Dolar AS Rawan Terkoreksi Lagi, Ini Penekannya
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif antara zona positif dan negatif pada perdagangan pagi ini, Senin (7/10/2019), menjelang digelarnya perundingan dagang antara AS dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, naik tipis 0,010 poin atau 0,01 persen ke level 98,818 pada pukul 09.34 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (4/10), indeks dolar AS ditutup di posisi 98,808 dengan melemah 0,056 poin atau 0,06 persen, penurunan hari keempat berturut-turut.

Sebelum berbalik ke zona hijau pada Senin pagi ini (7/10), indeks dolar AS sempat memperpanjang penurunannya ke level 98,748.

Seiring dengan pergerakan dolar AS, nilai tukar yen, yang kerap diburu di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, terpantau lanjut menguat 0,10 poin atau 0,09 persen ke level 106,81 yen per dolar AS.

Pada perdagangan Jumat (4/10), yen ditutup di level 106,91 dengan terapresiasi tipis 0,01 poin atau 0,01 persen pada Jumat (4/10), apresiasi hari keempat beruntun.

Dilansir dari Reuters, penguatan nilai tukar yen didukung laporan media bahwa China menginginkan ruang lingkup perundingan perdagangan yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Bloomberg melaporkan bahwa pejabat pemerintah China mensinyalkan keengganan untuk menyetujui kesepakatan perdagangan yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Laporan ini merobohkan pergerakan dolar AS di hadapan yen pada perdagangan Senin hingga ke level 106,55 yen.

“Dampak dari berita itu tidak akan bertahan lama. Perundingan perdagangan AS-China akan berlangsung pekan ini, menjelang kenaikan tarif yang direncanakan pada 15 Oktober,” ujar Yukio Ishizuki, pakar strategi senior di Daiwa Securities

Perundingan perdagangan tingkat tinggi antara AS dan China dijadwalkan akan digelar pada 10-11 Oktober mendatang. Wakil Perdana Menteri China Liu He direncanakan akan bertemu dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin di Washington.

Bulan lalu, Trump menunda pengenaan kenaikan tarif atas impor China senilai US$250 miliar menjadi 30 persen dari saat ini 25 persen hingga 15 Oktober dari yang semula dijadwalkan 1 Oktober "sebagai isyarat itikad baik".

“Amerika Serikat mungkin tidak ingin menaikkan tarif mengingat tanda-tanda pelemahan ekonomi AS baru-baru ini, dan pasar berharap untuk semacam kesepakatan yang memungkinkan mereka untuk terus berbicara di masa depan," tambah Ishizuki.

Pekan lalu, serangkaian rilis data ekonomi AS yang mengecewakan memunculkan keraguan mengenai anggapan banyak orang bahwa ekonomi AS akan lebih tangguh ketimbang dampak yang dialami negara-negara lain akibat perang dagang AS-China.

Kekhawatiran semacam itu sedikit mereda setelah data nonfarm payroll (NFP) AS untuk bulan September yang dirilis Jumat (4/10) tampak cukup kuat dan tingkat pengangguran turun mendekati level terendah 50 tahun.

Namun hal tersebut tidak banyak mengubah ekspektasi pasar bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan berikutnya pada 29-30 Oktober guna menyokong ekonomi.

Sentimen untuk dolar AS semakin diperumit oleh prospek politik AS yang tidak pasti, karena Trump menghadapi penyelidikan pemakzulan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS.

Posisi indeks dolar AS
TanggalPosisi

7/10/2019

(Pk. 09.34 WIB)

98,818

(+0,01 persen)

4/10/2019

 

98,808

(-0,06 persen)

3/10/2019

 

98,864

(-0,16 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top