Akhir Sesi I, IHSG Turun Setengah Persen Pascarilis Data Cadev

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (7/10/2019), pascarilis data cadangan devisa bulan September.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  12:46 WIB
Akhir Sesi I, IHSG Turun Setengah Persen Pascarilis Data Cadev
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (7/10/2019), pascarilis data cadangan devisa bulan September.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah setengah persen (0,50 persen) atau 30,24 poin ke level 6.231,01 pada akhir sesi I dari level penutupan sebelumnya. Pada perdagangan Jumat (4/10), IHSG ditutup di level 6.061,25 dengan penguatan 0,38 persen atau 22,72 poin.

Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak di level 6.030,61 – 6.084,16. Sebelum berbalik melemah, indeks sempat melanjutkan penguatannya dengan dibuka naik 0,27 persen atau 16,49 poin di posisi 6.077,74 pada Senin pagi.

Delapan dari sembilan sektor menetap di zona merah pada akhir sesi I, dipimpin industri dasar (-1,97 persen) dan barang konsumen (-1,07 persen). Satu-satunya sektor yang menetap di wilayah positif adalah finansial dengan kenaikan tipis 0,07 persen.

Sebanyak 161 saham menguat, 174 saham melemah, dan 320 saham stagnan dari 655 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing turun 2,75 persen dan 1,43 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG.

Bank Indonesia (BI) menyatakan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir September 2019 sebesar US$124,3 miliar.

Junanto Herdiawan, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, menyatakan bahwa posisi cadangan devisa ini terbilang cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2019 yang sebesar US$126,4 miliar.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Junanto melalui siaran pers yang diterima Bisnis.

Dia memerinci penurunan cadangan devisa pada September 2019 tersebut terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di Bank Indonesia.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 melemah 0,57 persen atau 2,97 poin ke level 519,21, sedangkan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index melorot 1,07 persen atau 7,23 poin ke posisi 669,41 pada akhir sesi I.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau melemah 25 poin atau 0,18 persen ke level Rp14.163 per dolar AS pada pukul 11.43 WIB, setelah dibuka terdepresiasi tipis 1 poin atau 0,01 persen di posisi 14.139.

Pemerintah Amerika Serikat dan China dijadwalkan akan mengadakan perundingan perdagangan pada 10-11 Oktober mendatang. Wakil Perdana Menteri China Liu He direncanakan akan bertemu dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin di Washington.

Fokus utama pasar pekan ini adalah negosiasi perdagangan dua negara berekonomi terbesar di dunia tersebut untuk melihat apakah kedua pihak dapat menangani perselisihan perdagangan yang selama ini telah menekan pertumbuhan global dan meningkatkan risiko.

Namun pejabat China meragukan akan tercapai kesepakatan perdagangan secara luas dengan AS pada negosiasi yang akan dimulai Kamis (10/10), menurut sumber terkait.

Wakil Perdana Menteri China Liu He, yang akan memimpin negosiasi untuk China, mengatakan kepada pejabat tinggi AS bahwa tawarannya tidak akan mencakup komitmen untuk mereformasi kebijakan industri China atau subsidi pemerintah, menurut sumber tersebut seperti dikutip CNBC.com.

“Nilai tukar rupiah masih rentan terhadap arus keluar dan dapat berkonsolidasi sekitar level 14.000-14.300 karena pasar menunggu kejelasan dari perundingan perdagangan AS-China,” jelas Chang Wei Liang, pakar strategi di DBS Bank, Singapura, dikutip dari Bloomberg

Indeks saham lain di Asia terpantau bergerak variatif. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing turun 0,08 persen dan 0,19 persen. Adapun FTSE Straits Times Singapura dan indeks SE Thailand masing-masing naik 0,71 persen dan 0,48 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top