IHSG Tahun Ini Hanya Bisa Naik Sekitar 2 Persen Year on Year

Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan tidak akan terlalu menguat menjelang akhir tahun ini. Pertumbuhannya dibandingkan tahun lalu diperkirakan naik sekitar 2% saja.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 06 Oktober 2019  |  16:47 WIB
IHSG Tahun Ini Hanya Bisa Naik Sekitar 2 Persen Year on Year
Pejalan kaki berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan tidak akan terlalu menguat menjelang akhir tahun ini. Pertumbuhannya dibandingkan tahun lalu diperkirakan naik sekitar 2% saja.

Para investor pun disarankan untuk terus mencermati segala perkembangan yang terjadi di pasar karena tak menutup kemungkinan pada awal tahun depan IHSG bisa melemah.

Dalam riset terbaru yang dipublikasikan pada Jumat (4/10/2019), MNC Sekuritas menargetkan IHSG bisa mencapai level 6.334 pada akhir tahun, tumbuh flat sebesar 2,26% secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Investor pun disarankan untuk menyikapi turbulensi pasar saham dengan bijak karena tak menutup kemungkinan ada potensi penurunan yang signifikan pada paruh pertama tahun depan.

“Kami menyakini bahwa potensi recovery dapat terjadi pada kuartal IV/2019, ditopang oleh aksi window dressing di tengah valuasi beberapa blue chip yang cukup reasonable saat ini,” kata Head of Research Institusi MNC Sekuritas Thendra Crisnanda kepada Bisnis.com, pekan lalu.

MNC Sekuritas pun mencermati peluang investasi untuk saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) pada level Rp3.800–Rp3.810 dengan rekomendasi buy saat ini. 

Selain itu, saham emiten rokok seperti PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) juga dinilai menarik untuk diperhatikan apabila terjadi koreksi lanjutan.

Senior Analyst PNM Investment Management Usman Hidayat juga memperkirakan IHSG hanya mampu rebound ke kisaran 6.400 pada akhir 2019 ditopang oleh turunnya volatilitas di pasar keuangan. 

“Memang secara year-to-date, Indonesia di posisi kedua terbawah pada 2019 ini di bandingkan bursa lainnya di kawasan. Penurunan ini tampaknya terjadi pada 6 bulan terakhir,” kata Usman di Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Dirinya melanjutkan, bursa saham global secara umum mulai melemah sejak Maret 2019. Namun demikian, pergerakan pasar keuangan menjelang akhir tahun ini diperkirakan bisa menguat terbatas seiring dengan turunnya risiko ketidakpastian global, konsolidasi perang dagang dan geopolitik.

Saat ini, Usman melanjutkan, volatilitas pasar saham secara ytd tercatat sebesar 0,7%. Adapun, tingkat volatilitas tersebut digunakan untuk mengukur kemungkinan risiko rugi per hari ketika berinvestasi di saham.

Sementara dari domestik, Usman menilai masa penghabisan APBN bakal mendongkrak kinerja saham BUMN Karya.

“Utamanya karena APBN akan dihabiskan, kontraktor pemerintah akan mendapat modal, seperti WSKT atau ADHI itu cash-flow-nya akan bagus sehingga saham-saham Karya bisa naik karena APBN kaitannya dengan disbursement dari pendanaan,” tutur Usman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top