Garuda Indonesia: Opsi Akuisisi Saham Sriwijaya Air Masih Terbuka

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2019 emiten berkode saham GIAA tersebut dilaporkan bahwa Sriwijaya Air masih memiliki utang sebesar US$118,79 juta.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  20:50 WIB
Garuda Indonesia: Opsi Akuisisi Saham Sriwijaya Air Masih Terbuka
Pesawat Garuda Indonesia berada di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (26/11/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menyebut masih membuka peluang untuk mengakuisisi saham PT Sriwijaya Air.

VP Corporate Secretary M. Ikhsan Rosan mengatakan bahwa perseroan masih membuka peluang kepada Sriwijaya Air untuk menawarkan pelunasan utang melalui penjualan sahamnya.

“Untuk opsi saham ke Sriwijaya itu masih terbuka,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (2/10/2019).

Dia menjelaskan bahwa opsi untuk mengakuisisi kepemilikan Sriwijaya Air telah lama muncul sejak kerja sama manajemen (KSM) dilakukan kedua belah pihak pada November 2018.

Namun, hingga saat ini, Ikhsan menyebut belum ada pendekatan lebih lanjut dari pihak Sriwijaya Air. Menurutnya, setelah perseroan melakukan kesepakatan untuk melanjutkan kembali KSM, saat ini perseroan masih fokus untuk membahas tataran operasionalnya.

“Akuisisi dulu juga opsi kami, tapi kan harus ada kesepakatan kedua belah pihak, dulu memang ada opsi kami untuk akuisisi,” tegasnya.

Dalam laporan sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo menyebut melalui KSM yang diteken, diharapkan Sriwijaya Air mampu membayar secara rutin sejumlah kewajibannya.

Untuk tahap awal, dia mengatakan KSO dilakukan untuk memastikan pemenuhan kewajiban berjalan dengan lancar. Namun, kerja sama tersebut dapat dikembangkan ke depannya termasuk melalui skema akuisisi Garuda Indonesia terhadap Sriwijaya Air.

“Tidak menutup kemungkinan [akuisisi]. Nanti lihat kondisi ke depan sambil dilakukan kajian,” jelasnya.

Hingga September 2019, Sriwijaya Air telah mencicil pemabayaran utang sebesar Rp465 miliar. Berdasarkan laporan keuangan semester I/2019 emiten berkode saham GIAA tersebut dilaporkan bahwa Sriwijaya Air masih memiliki utang sebesar US$118,79 juta atau sekitar Rp1,6 triliun.

Dengan dilanjutkannya kembali KSM antara kedua belah pihak, Sriwijaya Air diharapkan dapat kembali beroperasi sehingga maskapai tersebut dapat melanjutkan pencicilan utangnya.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara mengatakan bahwa Garuda Indonesia Group melalui PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk. dapat kembali memberikan layanan pesawat milik Sriwijaya Air.

Dengan demikian, Sriwijaya Air dapat beroperasi secara normal dengan bertahap. Dia mengatakan bahwa Sriwijaya Air dapat beroperasi dengan normal dalam waktu 2 bulan ke depan. Dia mengungkapkan bahwa saat ini, Sriwijaya Air memiliki 12 unit pesawat dari 30 unit pesawat yang siap beroperasi.

"Sekarang yang sudah dioperasikan 12. Bertahap kami akan tambah terus. Nanti kamk update terus ke market," ungkapnya.

Ramdani Ardali Adang yang sebelumnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Teknik Sriwijaya Air, setelah KSM kembali berjalan kini didapuk sebagai Tim Penyehatan Sriwijaya Air.

Dia mengatakan bahwa akan menjamin faktor seluruh faktor keamanan pada Sriwijaya Air dan Nam Air, sehingga armada pesawat perseroan dapat dinyatakan laik beroperasi kembali.

“Saya hanya satu bulan ke depan untuk menjamin faktor safety-nya Sriwijaya dan Nam kembali aman untuk penumpang. Mulai tadi malam 00.00 WIB, kami sudah kontrol semua, orang cukup, tools cukup, sudah sesuai proses ke arah proses yang bagus,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/10/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sriwijaya air, garuda indonesia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top